Komplain Soal Susu ke Produsen Susu

Apa deh judulnya hahahaha…

Jadi beberapa waktu yang lalu, sebelum Lebaran tepatnya, aku beli dua kotak susu segar merk Diamond di salah satu supermarket di daerah BSD. Keluarga kita bukan tipe peminum susu rutin sih, tapi satu dua kotak biasa aku stock aja di kulkas kalau-kalau pengen minum yeee kaaan..

Udah beberapa waktu aku kalau beli susu selalu susu segar merk yang ini, karena emang beneran segar tanpa tambahan gula, bukan ya ini bukan iklan alias #belipakaiduitsendiri. Abis beli langsung masuk di kulkas, dan belum dikeluar-keluarin sampai beberapa hari.

Nah pada kesempatan pertama, aku buka sekotak susunya, lalu aku cicipin dikit ehhh kok terasa pahit. Tapi belom yakin kan, kirain karena emang saat itu aku lagi gak enak badan jadi indera pengecap terganggu juga. Aku minta adekku dan suamiku cicip tapi menurut mereka juga emang pahit rasanya, tidak seperti biasa. Baik kalau begitu, langsung aku buang ke tempat sampah, dari pada kenapa-kenapa walaupun expire datenya masih jauh.

Beberapa hari setelahnya, suamiku buka kotak yang satu lagi, tuang susu ke gelas tapi trus isinya warna hijau muda gitu, guys! Langsung deh dibuang etapi sebelumnya difoto dulu sih buat dokumentasi. Malem itu juga kita langsung kirim email ke customer service yang ada di kotak susunya berisi keluhan atas kualitas dua kotak susu yang kita beli namun tidak layak dikonsumsi.

Email kita direspon dan pihak Diamond meminta kita menginformasikan beberapa hal terkait kode produksi (yang tertera di kemasan), tempat beli, tanggal beli, dan foto produk yang tidak layak dikonsumsi tersebut. Nah, jadi tadi susunya sebelum dibuang memang sengaja difoto bukan karena alasan lain, tapi ya memang untuk bukti bila diperlukan dalam proses komunikasi ini.

Setelah itu komunikasi tertunda beberapa saat karena libur Lebaran, terus setelah Lebaran pihak Diamond menelepon si papa dan menanyakan alamat rumah. Beberapa hari kemudian sesuai kesepakatan, pihak Diamond datang ke rumah untuk mengantarkan tiga kotak susu segar, dua untuk mengganti susu yang rusak dan sekotak lagi sebagai bentuk permintaan maaf.

Ini di luar dugaan sih ya, karena memang tujuan kita kirim email adalah hanya agar mereka tahu bahwa susu yang dijual dan kami beli ternyata tidak bisa kami konsumsi padahal kami sudah menyimpannya dengan suhu sesuai petunjuk. Terima kasih sekali kalau akhirnya komplain kita direspon dan kerugian kita diganti, hehehe.

Point dari cerita ini menurut aku ya sebagai konsumen kita berhak loh mengemukakan keadaan yang kita alami saat menggunakan suatu  produk apalagi bila memang disediakan saluran resminya. Mau direspon atau tidak itu urusan belakang, tapi dengan kita komplain produsen jadi tau bahwa ada sesuatu yang salah di pasar. Ngga matching antara kualitas produk dan ekspektasi pelanggan. Kalau perusahaannya aware sama brand, pasti tidak asing lagi sama yang namanya handling complaint.. Terpapar risiko reputasi ituuuu kalo tidak ditangani dengan baik. Idealnya gitu kan yaaaaa… Kantor aku juga gitu kok, sekecil apapun komplain, kalau disertai data dan bukti yang cukup pasti direspon.

Kata temen-temenku sih, “ah dasar kamu aja mbak yang doyan komplain, apaa aja dikomplain, kita sih beli aja lagi dari pada repot/ribut”, kalau menurutku ya boleh aja beli lagi tapi produsen juga mesti tau dong kita beli lagi itu karena yang sebelumnya terbuang percuma. Jadi bisa aja penjualannya tinggi tapi semu, iya semu, karena sesungguhnya ada konsumen yang tidak puas tapi lebih memilih beli lagi daripada mengirim surat keluhan. Iyee, ini analisa pribadi doang sih,  sok tau pula, hahahaha.. Maafkan!

 

Advertisements

Pengalaman Mengurus ATM BCA yang Ditelan Mesin

Siapa yang pernah ketinggalan kartu ATM?

Sayaaa!!! Lebih dari sekali malah hahahaha. Nah, ini aku mau cerita pengalamanku mengurus kartu ATM BCA yang ketelan mesin. Aku pikir bagus juga bila ditulis barangkali berguna bagi orang lain, karena aku juga tipe orang yang suka browsing sana sini sesuai keperluan saat itu.

Jadi kira-kira seminggu setelah Lebaran, aku merasa harus makan nasi uduk. Apa pasal? Karena tiga hari berturut-turut aku cari nasi uduk tapi kehabisan melulu, jadi penasaran kan.

Karena beli nasi uduk perlu duit, setelah aku pesan nasi uduk sama abang penjualnya, aku pergi ke ATM BCA yang ada di pasar modern. Mungkin ya, mungkin saking udah pengen banget makan si nasi uduk yang sukses bikin penasaran tiga hari terakhir, begitu duit keluar langsung ku ambil dan segera menyongsong nasi uduk idaman.

Belakangan, baru aku tau kalau kartunya entah di mana hahaha. Taunya juga pas di kasir supermarket dua hari setelahnya , mau bayar, aku cariin kartu ATMnya kok nggak ketemu. Akhirnya biar cepat aku bayar pakai kartu ATM lainnya.

Lalu mulailah kehebohan melanda, semua tas dan laci aku bongkar, nggak ketemu juga. Setelah si papa pulang kantor aku minta tolong juga ngecekin mobil siapa tau kececer di mobil kan. Hasilnya, nihil. Akhirnya aku coba login ke internet banking. Loginnya berhasil, tapi saat mengecek saldo dan mengecek mutasi rekening tidak berhasil atau tidak bisa ditampilkan. Makin jantungan kan, ngga bisa ngecek saldo soalnya. Takut kartunya ditemukan orang terus dicoba-coba PINnya dan berhasil.

Akhirnya aku tanyakan persoalanku yang tidak bisa cek saldo ini ke akun Twitternya Halo BCA @HaloBCA. Dalam hitungan menit, tim @HaloBCA langsung membalas tweetku menanyakan apakah saat ini kartu hilang atau tertelan mesin. Selanjutnya aku diminta untuk menginformasikan nomor telepon melalui DM. Itu asli ya, semenit sejak aku kasih nomor telepon langsung loh dihubungin sama petugas @HaloBCA.

Jadi begini guys, ternyata setelah mereka mengecek dataku, ATMku itu tertelan mesin ATM karena tidak diambil sampai batas waktu yang diberikan terlampaui. Semua ATM yang ketelan sama mesin secara otomatis akan dihancurkan, dan semua layanan online akan otomatis diblokir. Penyebab aku nggak bisa ngecek saldo yaitu, karena memang otomatis dihentikan layanannya.

Oke, aku senang banget ya dengarnya, data keuangan kita tidak akan bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain. Amanlah.

Lalu beranjaklah kita ke topik pembicaraan selanjutnya, apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan kartu baru. Ya maklum, namanya abis libur panjang ya bok, tentunya tidak punya kartu ATM adalah suatu musibah yang membuatku tidak berdaya. Tidak berdaya untuk pergi-pergi ke mall maksudnya, karena uangnya nggak ada hahahahaha. Sebab ATM yang satu laginya isinya sudah dikuras sampai bersih selama liburan yang panjang itu. Seriously, the longest holiday ever!

Mbak dari Halo BCA itu menjelaskan bahwa untuk pembuatan kartu baru ada dua kondisi yang harus dipenuhi, yang menurut sependengaranku adalah sebagai berikut:

  1. Kalau alamat KTP saat ini masih sama dengan alamat yang tertera pada buku tabungan, maka penggantian kartu dapat dilakukan di semua cabang dengan membawa KTP dan buku tabungan.
  2. Kalau alamat KTP saat ini sudah berbeda dengan alamat yang tertera pada buku tabungan, maka penggantian kartu hanya dapat dilakukan di cabang asal pembukaan.

Terus aku jadi yang

“MASA SIH MBAK? MASA SAYA HARUS KE BATAM BUAT NGURUS ATM DOANG? ATM AJA NGGA PUNYA BORO BORO BELI TIKET HAHAHAHA HIHIHIHI KE BATAM!”

Yang tentu saja dijawab dengan sangat sopan oleh mbaknya “Maaf ibu, memang begitu prosedurnya”.

Sempat terpikir juga kan mau datang ke kantor cabang terdekat untuk menanyakan hal tersebut, tapi buku tabungan adanya di kantor. Saat itu dan seminggu ke depannya aku masih cuti. Males kan ke kantor doang ngambil buku tabungan.

Ya udah pas aku udah masuk kantor baru deh berkesempatan datang ke kantor BCA terdekat, only to find that

“Mbak, sebenarnya kalau udah pernah difoto, mbak boleh loh mengurus penggantian kartu di manapun tanpa buku tabungan”

Mau nangis nggak dengarnya? Hahahahaha…

Menurut petugas Customer Servicenya, aku sudah pernah di foto tahun 2016, jadi seharusnya begitu kehilangan/ATM ketelan mesin langsung aja ke cabang terdekat. Pada saat itu aku langsung dibuatin kartu baru, yang pakai chip, for free (yay!) karena kartuku yang ketelan mesin masih jenis kartu yang lama. Tapi nanti kalau kartu yang ini hilang atau ketelan mesin lagi, mesti bayar yaaa… Oh ya, selama pengurusan aku bahkan ngga dimintain KTP loh! Jadi kayanya verifikasi dilakukan dengan mencocokkan wajahku sekarang dengan wajahku dua tahun yang lalu (atau berapa kilo lebih ringan hahahaha).

Jadi begitulah, ternyata nggak ribet kok mengurus kartu ATM pengganti. Cuma kalau boleh saran nih, alangkah baiknya informasi yang diberikan oleh layanan Halo BCA sama dengan informasi yang diterima dari customer service di kantor cabang. Biar nasabah juga nggak overthinking ya kan. Tapi overall aku happy kok karena prosesnya ternyata ringkas.

Good job BCA…

 

 

Mengurus Perpanjangan Paspor di Mall Pelayanan Publik DKI Jakarta

Berhubung paspor sudah memasuki masa kadaluarsa tentunya aku mulai cari-cari tau dong bagaimana cara perpanjangan paspor. Dari beberapa blog yang aku baca dan informasi dari teman-teman aku yang sudah memperpanjang paspornya lebih dulu, hal pertama yang harus kita lakukan adalah bikin akun  Antrian Paspor Online (https://antrian.imigrasi.go.id/) atau download aplikasinya via Play Store.

Setelah bikin akun, lalu nanti kita bisa memilih ingin memperpanjang paspor di Kantor Imigrasi yang mana dan ingin datang pada tanggal berapa. Perlu diingat bahwa kuota per hari per kantor dibatasi. Jadi bila pada tanggal yang kita inginkan kuota sudah penuh, ya kita harus cari lagi sampai tanggal yang kuotanya masih tersedia.

Yang terjadi di aku, aku bikin akun melalui website (tidak mengunduh aplikasi) sekitar tanggal 11 Mei 2018. Setelah login, aku coba pilih tanggal di beberapa kantor tapi kuotanya sudah pada full bahkan sampai bulan Juni. Nggak tau juga sih, apakah benar full atau pada saat itu lagi ada trouble.

Akhirnya, aku coba login melalui aplikasi pakai akunnya teman yang seminggu sebelumnya sudah perpanjang paspor. Hasilnya aku berhasil mendaftar karena kuota masih tersedia di Mall Pelayanan Publik  yang berada di daerah Kuningan untuk tanggal 23 Mei 2018. Lumayan deh, tinggal guling-guling doang dari kantorku bisa sampe sana 😀 😀 Letaknya persis di belakang Hotel JW Luwansa.

Adapun syarat-syarat yang diperlukan hanyalah paspor lama dan E-KTP beserta fotokopinya. Iya, sesimpel itu! Oh ya fotokopinya tidak perlu digunting, biar aja begitu dalam kertas A4.

WhatsApp Image 2018-05-23 at 14.59.04
Syarat perpanjangan paspor. Sungguh simple.

Selain itu, aku bawa juga sih berkas-berkasku yang lain seperti kalau mau buat paspor baru, memitigasi risiko berkas ditolak karena kurang lengkap!

Sesuai arahan aku datang 15 menit dari jam yang ditentukan. Aku masuk gedung, ambil nomor antrian di lantai 1. Lalu naik ke lantai 3. Di lantai 3, aku disuruh isi buku tamu terlebih dahulu sebelum menuju konter Imigrasi. Aku ingat sekali, aku menulis 08.43 sebagai jam kedatanganku.

Begitu tiba di depan konter, langsung dilayani oleh petugas, emang kebetulan lagi nggak ada antrian, jadi nomorku langsung dipanggil. Aku ditanya apakah sudah mendaftar antrian online dan diminta menunjukkan syarat-syarat yaitu paspor lama dan E-KTP beserta fotokopiannya. Bahkan notifikasi pendaftaran antrian online yang sudah kucetak saja tidak diambil oleh beliau.

WhatsApp Image 2018-05-23 at 14.59.04 (1)
Petugas memberi penjelasan pada pengunjung setelah aku

Yang perlu difotokopi untuk paspornya hanyalah halaman yang ada data identitas kita yaa. Jangan kaya aku, sebuku difotokopi, hahahaha.. Selain itu kita juga boleh pilih apakah mau paspor pengganti yang biasa atau paspor yang elektronik. Yang biasa harganya sekitar IDR 375K jadinya sekitar 3 hari kerja, kalau mau yang elektronik harganya IDR 655K jadinya 7 hari kerja. You choose 😀

Lalu setelah berkasku diambil, disuruh menunggu sekitar 5 menit, lalu kemudian difoto lalu diberi tanda terima buat bayar paspor ke Bank DKI yang ada di lantai 2. Bayarnya mesti tunai ya, tapi tenang, in case ngga bawa tunai (seperti aku hahahaha) bisa ambil uang di ATM di lantai 1.

WhatsApp Image 2018-05-23 at 14.59.05
Bayar paspor di sini

Habis bayar, ya udah, selesai. Kembali lagi nanti buat ambil paspor beberapa hari lagi. Pas selesai bayar di bank, aku lihat jam menunjukkan 08.50.

Wow,  less than 30 minutes udah kelar. Bener-bener nggak ngabisin waktu! Nggak ngantri-ngantri, nggak mesti cuti kantor, bahkan aku cukup cuma menghilang sejam doang, bos ngga sempat merasa kehilangan gitu deh hahahhaha.

Nanti aku update durasi yang kuperlukan saat pengambilan paspor bila paspornya sudah jadi.

 

Ketinggalan barang di KRL

B25A78F9-D92E-4941-A3F9-F6F925A95C2E371 hari setelah hari pertama aku naik KRL untuk pergi dan pulang kantor, akhirnya pecah telor juga dalam hal ketinggalan barang di kereta 😂😂. Dihitung banget yak harinya.

Jadi ceritanya, sepulang kantor aku naik KRL yang tujuan Tanah Abang walaupun sejujurnya rumahku malah arah sebaliknya. Demi apa? Yak betul, tentu saja demi dapat tempat duduk. Kalau langsung naik kereta yang ke arah TangSel dijamin bakal himpit-himpitan di kereta, rame banget. Cukuplah pagi hari saja aku berdiri himpitan di kereta, saat pulang marilah kita duduk cantik saja. Lelah kak! Caranya pakai strategi naik kereta dulu ke BrotherLand, keretanya ngetem sebentar, lalu berangkat deh ke arah TangSel.

Kebetulan, hari itu secara disengaja aku dan si papa janjian ketemuan di stasiun BrotherLand inilah agar pulangnya bareng ke rumah. Lumayan kak, #irit ongkos gojek 😂. Jadi begitu mau sampai stasiun TA, aku kabarin hubby aku ada di Kereta tujuan apa, masuk di jalur berapa, dan naik di kereta nomor berapa. Ok sip. Kita berhasil ketemu, tapi si papa ngga berhasil dapat tempat duduk akibat kurang gesit saat rebutan kursi hahahhah! Si papa akhirnya berdiri pas di depan aku.

Namapun lagi berusaha #irit, tentu saja aku bawa bekal makan siang ke kantor. Jadi saat itu aku pegang kan tempat bekalku, tapi karena ngga nyaman, aku bilang ke si papa “tolong tempat bekalku di atas aja deh” serta tidak lupa mewanti-wanti agar JANGAN LUPA MENGAMBIL TEMPT BEKAL SAAT TURUN! Oke kata si papa. Asumsiku, dia kan berdiri ya, kepalanya sejajar dengan kompartemen di atas, pasti kelihatanlah jadi ngga mungkin lupa.

Tapi, wanti-wanti tinggal kenangan. Saat turun, tiada satupun dari kami berdua yang ingat si lunch box itu. Aku baru teringat setelah memasuki area parkir stasiun, dan langsung drama “tuh kan pa, udah dibilang tadi jangan lupa. Mahal loh itu, mana baru dibeli pula minggu lalu”.

Trus kami bergegas kembali ke loket lalu lapor ada barang tinggal. Sama petugas loket kita diarahkan untuk lapor sama petugas di dalam. Di dalam stasiun, kita langsung melapor sama satu orang petugas. Dia tanya hal-hal seperti barang yang tertinggal apa, ciri-ciri barangnya bagaimana, tadi duduk di kereta nomor berapa, trus duduknya di sisi sebelah kiri atau sebelah kanan dari arah datangnya kereta. Tidak lupa dia minta foto barang, buat dikirim ke petugas di stasiun akhir perjalanan KRL tadi. Dia kontak-kontakan sama petugas di stasiun satunya pakai HT, lalu dengan cepat kita dapat informasi kalau barangnya sudah ditemukan dan diamankan. Kita diberi bukti pelaporan barang tinggal setelah petugas mencatat nomor KTP dan nomor kartuku. Petugasnya bilang, barangnya sudah boleh langsung diambil di stasiun Serpong dengan menunjukkan form lapor tadi.

Karena rasanya sudah  malam banget, kita memutuskan untuk menunda pengambilan lunchbox. Besok aja deh. Toh barangnya masih bisa diambil dalam jangka waktu tiga hari.

Keesokan harinya, pas pulang kantor aku janjian lagi dengan si papa buat pulang bareng dan kita turun di stasiun Serpong untuk mengambil si barang ketinggalan itu. Nah, proses pengambilannya nggak susah sama sekali, cukup menunjukkan form lapor sama petugas loket dan kita akan diarahkan ke ruangan mana barang kita disimpan. Akhirnya tempat bekalnya kembali ke pelukanku hahaha.

Nah, kalau nggak karena tempat bekalnya udah buruk rupa, mungkin aku ikhlas kali ya, tapi karena masih baru aku bela-belain nanya deh hahahha. Jadi tau kan kalau ternyata barang ketinggalan itu bisa  diperoleh kembali dengan catatan begitu sadar ketinggalan langsung lapor daaan tentu saja kalau belum diambil sama penumpang lain 😂.

 

Note : tulisan ini dibuat dalam perjalanan pulang naik KRL, lumayan juga mengisi waktu.

 

 

Puasa Pra Paskah (Lent) 2018

Umat Kristiani baru aja selesai merayakan Hari Raya Paskah atau Kebangkitan Yesus pada 1 April yang lalu. Sebelum hari raya Paskah, ada yang namanya masa pra paskah yang berisi serangkaian kegiatan, di antaranya aksi puasa.

Aksi puasa ini berlangsung selama 40 hari (tidak termasuk Minggu) yang mana tahun ini dimulai dari Rabu Abu 14 Februari 2018 sampai dengan Sabtu Sunyi 31 Maret 2018.

Aksi puasa itu sendiri merujuk pada kejadian Yesus berpuasa selama 40 hari 40 malam, dan melalui aksi ini diharapkan kita dapat semakin mendekatkan diri dan mengarahkan hidup kepada Yesus. Dengan berpuasa, kita menyangkal hal-hal yang kita nikmati selama ini dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Seumur-umur, baru kali ini tergerak ikut puasa pra paskah, itu juga karena aku sering lihat dan dengar himbauannya di gereja kan, terus aku cari tau sedikit referensi mengenai puasa ini, terus entah kenapa dengan mantap pengen ikutan.

Karena masih baru dan sejujurnya belum 100 persen paham dengan konsep berpuasa ini, aku juga nggak terlalu tahu yang ideal itu seperti apa. Yang aku garisbawahi adalah, aku mesti meninggalkan sesuatu hal yang benar-benar selama ini mengikatku.

Nah, salah satu referensi aku pas riset (caila riset!) adalah Rev. Tracy Trinita, yang mana aku ngikutin ibadah puasa prapaskahnya sudah sejak tahun lalu. Dalam beberapa hal, adalah kesamaan antara keinginanku dan apa yang sudah dia lakukan pada puasanya tahun lalu, jadi dengan mantap aku memutuskan untuk puasa A dan puasa B 😝.

Selama 40 hari berpuasa, aku baru memahami, memang beda ya kalau kita berpuasa karena ingin taat dan mendekatkan diri pada Tuhan, semuanya jadi terasa nggak beban. Nggak bisa ngebayangin, yang tadinya kupikir aku nggak bisa lepas dari A dan B, eh pas dilakukan dalam konteks yang berbeda kok ya ringan dan menyenangkan. Ya walaupun untuk melancarkan aksi puasa, aku sempat pengumuman juga sih sama orang-orang dekat di sekitarku, biar mereka ngga bertanya-tanya kenapa aku tiba-tiba nggak A dan B, hahaha! Eh malah aku yang kayak didukung banget sama mereka, cinta deeh!

Pas ketemu hari raya Paskah, walah itu udah senangnya kayak apa, norak banget akhirnya boleh A dan B lagi hahahhh.

Sekarang gimana A dan B? Ya aku masih lah terikat, tapi sudah nggak seperti dulu lagi, udah makin bagus self controlnya 😝. I wish!

Dengan puasa pertamaku ini, aku mantap tahun depan akan puasa lagi, sementara itu aku bakal belajar lebih banyak lagi, biar pengetahuannya meningkat dan aksi puasanya jadi benar. Ada amin saudara-saudara?

 

Membatin

membatin/mem·ba·tin/ v memikir dalam hati; memikirkan sampai meresap ke dalam hati (https://www.kbbi.web.id/batin)

Jadi kalau pulang kantor aku kan naik TJ (probability 95%), nah menunggu bus itu sendiri kadang bikin geregetan. Kadang nih, aku masih di tangga jembatan menuju halte, bus yang aku perlu sedang berhenti naik turun penumpang. Otomatis gerak cepat dong jalannya, lari bila perlu. Begitu aku berhasil tiba di depan pintu bus, lah pintunya ketutup 😭😭😭

Kali lain, udah lelah nunggu, aku gak berhasil-berhasil masuk bus saking penuhnya penumpang. Ya maklum, sini orangnya gak tegaan kalau mesti sikut-sikutan demi naik bus. Bahaya kak.

Nah, hari ini, dari atas jembatan saat aku turun tangga, aku lihat ada bus berhenti. Aku malas lari-larian, jadi aku santai aja. Eh, tapi kok busnya nggak jalan-jalan? Aku masih santai aja kan, tapi sambil membatin, kalau bus ini nungguin aku, nanti aku tulis pengalamanku hari ini deh di blog saking terharu *apalah* hahaha. Pas udah sampai mesin tap kartu, eh busnya masih setia menunggu, ya sudah terpaksa masuk dan nulis deh, bayar utang membatin hahahaha. Padahal antrian di mesin tap tadi lumayan panjang juga.

Jalanan kadang unpredictible banget ya, kemarin smooth banget, dari halte depan kantor sampai ke stasiun palmerah 45 menit saja. Nah ini, udah 45 menit dari jam 5 aku masih di bus stop ganti bus ke arah palmerah. Mana aku lupa bawa bacaan lagi, jadinya gini kan, ngeliat-liatin orang sambil membatin.

Satu lagi yang sering bikin aku membatin itu adalah perilaku penumpang bus di halte (atau stasiun) yang kadang bikin emosi sampai perlu minum jus timun. Coba dibayangkan ya, seberapa besar sih ruang tunggu halte bus, yang mana kadang bus-bus itu cuma menurunkan penumpang doang tanpa ada yang naik, overload kan haltenya. Tapi bisa-bisanya aja loh penumpang yang baru turun itu nggak mau bergeser ke dalam halte dikit. Tindakan yang kaya gini suka bikin kesal karena dua hal antara lain:

1. Penumpang tidak mau geser dari depan pintu padahal bus yang kita tunggu udah datang. Dia bukan menunggu bus yang sama. Otomatis pas orang-orang mau naik, yang insisted berdiri depan pintu akan kesenggol kan? Harap diingat halte dalam situasi penuh sesak. Lalu dengan muka kesel pakai ngomong “mbak jangan dorong dan senggol-senggol dong” pula! Tipe begini bukan cuma bikin membatin dalam hati tapi juga pengen teriak bilang “mbak situ sehat mojok sana biar ngga kesenggol” 😝😝😝😝

2. Penumpang baru turun bis namun tidak mau geser karena bis lanjutannya akan segera tiba. Kalau bis yang datang kosong, saya sih gak apa ya naik belakangan, tapi yang bikin nyesak kan kalau bus yang tiba penuh dan cuma bisa menaikkan beberapa penumpang otomatis yanh naik mereka yang konon baru tiba. Apa kabar kita yang sudah menunggu dari tadi? Sedih kak 😭😭😭

Pada kurang piknik apa gimana ya orang-orang pada ignorant gitu, ga punya perasaan.

Begitulah balada pekerja yang bermukim di Tangsel tapi bekerja di Jaksel 😝. Next time aku mau cerita suka duka naik KRL deh.

 

 

Bid Bad Wolf Jakarta 2018

Setelah menunggu hampir setahun, akhirnya BBW 2018 hadir juga, dan masih di ICE juga, tinggal guling-guling dikit dari rumah sampai deh *lega*. Event BBW ini memang sangat ditunggu sih dalam rangka mengisi rak buku di rumah dengan buku-buku bagus namun harganya terjangkau.

Tahun lalu, aku dateng ke BBW itu pada hari keberapa gitu ya, pas hari Minggu, yang mana nyari parkir aja susah, trus di dalam hall sudah desak-desakan, posisi buku udah berantakan, dan antrian kasir yang lumayan panjang. Nah, berbekal pengalaman tahun lalu, aku cari-cari info lah gimana caranya supaya bisa dapat preview sale tiket. Ada dua cara yang aku tahu, tukar fiesta poin Mandiri atau daftar online jadi member BBW. Tadinya sudah niat nih tukar poin aja, tapi dipikir-pikir daftar online sekalian sajalah :D, trus langsung dapat deh tiket preview salenya yang mana satu tiket berlaku buat dua orang dewasa dan juga boleh bawa anak. Preview sale itu dibuka sehari sebelum public sale, jadi aku berasumsi pastinya bukunya masih pada rapi, trus antrian kasirnya juga nggak terlalu rame, parkirnya juga mungkin ngga sepadat kalau sudah public sale.

Tanggal 28 Maret 2018, aku dan Denny sepakat ke ICE sehabis pulang kantor, tapi nggak usah ke rumah dulu. Kita emang mau pergi berdua saja, karena kalau anak-anak ikut nanti pasti belanjaannya banyak, sementara mama papanya justru ingin irit, maklum lagi bokek :D. Jadi benar-benar turun dari KRL langsung ke ICE. Kita sampai sekitar jam 19.30 WIB di ICE, parkiran mobil ternyata sudah rame. Lalu sebelum masuk, aku harus menukarkan dulu tiket online dengan tiket fisik di counter. Nah di situ, aku lihat, counternya itu bukan cuma buat menukarkan tiket yang diperoleh dari penukaran fiesta poin atau member, tapi juga tiket yang diperoleh dari quiz dan lomba yang diadakan radio dan ada satu counter khusus untuk pelanggan XL Prabayar yang pakai aplikasi myXL.

3d841d14-78fb-4cbb-a6b3-039476dfa87cd5d5da6f-4306-40e2-9332-f22235b97b65

Begitu masuk hall, waaaah berjuta rasanya. Senang banget melihat seruangan besar isinya buku-buku semua, pengen dimasukin semuanya ke dalam troli hahaha. Suasananya sih tidak terlalu ramai, buku-bukunya masih sangat rapi dan lengkap, cukup nyamanlah. Aku dan Denny berpencar sesuai arah ke mana hati membawa kami *duile* aku sih banyak menghabiskan waktu di area buku anak ya, baik yang English maupun yang bahasa Indonesia (penerbit Mizan). Setelah memilih-milih buku anak, baru deh aku memutari hall lihat-lihat buku yang lainnya. Buku-buku Dan Brawn gitu lumayan lengkap, sayangnya judul Origin nggak ada 😀 John Grisham, Sidney Sheldon, dll banyak deh pokoknya novel-novel untuk adults. Buku-buku reference juga lumayan ya, tapi aku lagi nggak cari jenis yang begitu.

Setelah puas keliling-keliling, lalu aku dan suami bertemu di rest corner lalu menyatukan belanjaan yang banyaknya satu troli, untuk kemudian disortir lagi menjadi 14 buku saja huhuhuhuhu. Mostly buku anak-anak.

WhatsApp Image 2018-04-06 at 16.44.19

Pas kita ke area kasir, walaupun agak lama tapi sungguh nggak antri panjang loh. Jadi lama karena memang setiap orang belanjaannya banyak, jadi transaksinya lama. Saking banyaknya belanjaan, ada loh kemaren mas-mas sampai bawa koper besar plus hand bag yang biasa buat dipakai fitness itu. Perasaan kemaren kita berdua doang yang belanjanya paling sedikit hahahaha. Saat pembayaran, member BBW masih mendapat harga diskon untuk buku-buku yang berstiker khusus member, lumayan deh. Kalau pakai fiesta poin juga bisa dapat potongan lagi seharusnya, tapi karena aku belanja kurang dari IDR 1 juta, jadi aku tidak eligible untuk redeem fiesta poin. Oh ya bayarnya cuma bisa cash atau kartu Mandiri ya.

Buku-bukunya sendiri sungguh membawa kebagiaan buat anak-anak, tiap hari dibaca dan dibahas hehehhehe. Senangnya beli buku ya ini, anak-anak suka membahas materi bacaannya, seru!

Jadi begitu deh pengalaman ke BBW 2018, menurutku kurang seru yaaa karena perginya di saat bokek melanda, jadi kurang leluasa belanjanya. Baiklah, tahun depan aku akan datang dengan dompet yang lebih tebal hihihihi.

TransJakarta alias TJ

For those who follow my IG account must know how close my relationship with TJ 😂

I should thank TJ a lot!

Firstly, I use TJ on daily basis, mostly in the afternoon from my office to the Comline station with only Rp.3500 which is very cheap compared to Gojek or any other options.

Secondly, the facilities are complete! The bus is clean,cool, and at the bus stop there is a LCD showing the bus’ ETA of each destination. The timing is not always sharply accurate but it helps at least passangers know how long to wait.

Last, the bus crew is nice and very helpful! After office hours, the bus is usually packed and for sure, impossible to get a seat. People will sit any empty seats include the priority ones! If you think you need a seat you can tell the crew and he will help you to find one.

I’ve never asked for the seat so far, but not once or twice the crew (what is kenek in English?) offered me the priority seats.

You must ask “why”, well because he/she thought I’m a preggie woman 😂😂😂. OMG, I should kick my ass to do some sports!

It’s very nice of you but no I dont need the seat, thank you bro/sis! Keep up the good work TJ 😁💪

Note : I’m not an ambassador for TJ and I’m not paid for writing this post.

 

 

 

 

Random Post : Cashless

Cashless yang dimaksud di judul ini adalah tidak punya uang tunai, adanya uang elektronik.

Buat orang-orang yang kenal baik sama aku, pasti tau banget deh kalau aku itu orangnya memang jarang sekali menyimpan duit tunai. Aku lebih suka menyimpan duit dalam bentuk elektronik yaitu di kartu Flazz atau di GoPay. Jumlah yang tersimpan di Flazz dan GoPay sih nggak terlalu besar ya. Ya secukup kebutuhan aja sih. Contohnya kalau Flazz ya dipakai buat bayar KRL, busway, atau buat jajan di Alfamart kalau lapar pas nunggu kereta hehehe. Kalau GoPay ya secukupnya buat bayar Gojek atau Gocar buat sebulanlah.

Kalau untuk belanja yang jumlahnya besar biasa pakai  kartu debit aja. Aku punya uang tunai biasanya hari Sabtu, karena mau belanja ke Pasar dan kelebihan uangnya dipakai buat kasih persembahan di Gereja pas hari Minggu (plus jajan-jajan di gereja juga sih).

Kalau buat makan siang yang dibeliin OB di kantor biasa ambil dulu secukupnya di ATM di kantor, tapi kalau makan di luar sama teman biasanya ada aja yang mendahulukan biaya makannya, nah trus aku tinggal transfer deh berapa yang harus aku bayar.

Nah, ini kebetulan kereta belum berangkat (iya, aku kan mbak mbak KRL 😝 ) aku jadi teringat punya pengalaman lucu tentang cashless condition ini.

Pada suatu hari, aku sampai di Stasiun tujuan dan rencananya akan naik Gojek aja. Waktu masuk kantor belum terlalu mepet sih kira-kira 40 menit sebelum jam 8.00, masih bisa naik bus TransJakarta, cuma aku pikir mending naik Gojek ajalah biar cepat. Nah biasa, satu stop sebelum stasiun aku turun, aku udah bikin order di aplikasi, cuma belum tekan “order now”. Begitu sampai di stasiun, baru pesanannya aku eksekusi. Dan begitulah yang kulakukan. Tak lama ada notifikasi bahwa sudah ada Gojek yang siap mengantar ke kantor. Pas mau menelepon si abang Gojek, tiba-tiba HPku hilang sinyal. Hilang sinyal bukan cuma sinyal internet ya, sinyal buat telepon pun ngga ada. Duh, kesel banget kan. Mana aku belum sempat menghapal nomer plat motornya lagi.

Trus HPnya aku restart lagi, eh sinyalnya masih belum nongol, aku restart lagi, eh masih hilang. Begitulah yang kulakukan sampai kira-kira 271 kali (OK, yang ini bohong) sambil menahan kesal. Jam sudah menujukkan pukul 07.50. Gojek nggak bisa diharapkan, terpaksa mesti naik OPang alias Ojek Pangkalan nih biar bisa sampai secepatnya di kantor. Hampir aja aku naik ke motornya abang Opang, lalu tiba-tiba sadar, ya ampun! Aku kan nggak punya uang tunai buat bayar, huhuhuhu. Opsi tersisa hanyalah naik TransJakarta, yang sudah pasti tidak akan mengantarkanku tepat waktu ke kantor.

Aku pasrah, sudah deh telat sedikit nggak apa-apa, toh sudah tidak ada pilihan lain. Langsung deh aku lari ke halte TJ, tap Flazz terus naik, dan untungnya, busnya langsung jalan. Telat kah? Ya pasti telat lah sampai kantornya 😄.

Dipikir-pikir, coba ya, aku punya pulsa, punya saldo GoPay, edodoe, siapa yang nyangka sinyalnya yang nggak ada (thank you XL).  Tau gitu, aku mending langsung naik bus TJ aja begitu turun di stasiun kan.

Terus pernah juga, aku pesan Gojek dengan kondisi saldo GoPay lebih dari cukup untuk membayar ongkos. Jadi pas turun, aku santai aja bilang terima kasih trus jalan masuk ke kantor. Eh, dipanggil dong sama abang Gojeknya, katanya aku mesti bayar tunai, karena di aplikasi metode pembayaran pesananku tercatatnya tunai. Nah loh, sibuklah aku merogoh-rogoh recehan di dalam tas. Untungnya ketemu hahahaha.

Pernah juga nih, mesin tap kartu di halte bus TJ di depan kantor lagi rusak, jadi mesti bayar tunai 3500 rupiah. Terjadi lagilah peristiwa rogoh-rogoh tas mencari uang logam. Hahahaha.

Ternyata tetap perlu ya menyimpan sedikit uang tunai, untuk mengantisipasi hal-hal seperti ini. Sejak itu, aku mulai deh simpan uang minimal untuk bayar Opang 🤣🤣.

Keasyikan nulis sampai nggak sadar aku sudah hampir sampai nih. Bye bye!