Membatin

membatin/mem·ba·tin/ v memikir dalam hati; memikirkan sampai meresap ke dalam hati (https://www.kbbi.web.id/batin)

Jadi kalau pulang kantor aku kan naik TJ (probability 95%), nah menunggu bus itu sendiri kadang bikin geregetan. Kadang nih, aku masih di tangga jembatan menuju halte, bus yang aku perlu sedang berhenti naik turun penumpang. Otomatis gerak cepat dong jalannya, lari bila perlu. Begitu aku berhasil tiba di depan pintu bus, lah pintunya ketutup 😭😭😭

Kali lain, udah lelah nunggu, aku gak berhasil-berhasil masuk bus saking penuhnya penumpang. Ya maklum, sini orangnya gak tegaan kalau mesti sikut-sikutan demi naik bus. Bahaya kak.

Nah, hari ini, dari atas jembatan saat aku turun tangga, aku lihat ada bus berhenti. Aku malas lari-larian, jadi aku santai aja. Eh, tapi kok busnya nggak jalan-jalan? Aku masih santai aja kan, tapi sambil membatin, kalau bus ini nungguin aku, nanti aku tulis pengalamanku hari ini deh di blog saking terharu *apalah* hahaha. Pas udah sampai mesin tap kartu, eh busnya masih setia menunggu, ya sudah terpaksa masuk dan nulis deh, bayar utang membatin hahahaha. Padahal antrian di mesin tap tadi lumayan panjang juga.

Jalanan kadang unpredictible banget ya, kemarin smooth banget, dari halte depan kantor sampai ke stasiun palmerah 45 menit saja. Nah ini, udah 45 menit dari jam 5 aku masih di bus stop ganti bus ke arah palmerah. Mana aku lupa bawa bacaan lagi, jadinya gini kan, ngeliat-liatin orang sambil membatin.

Satu lagi yang sering bikin aku membatin itu adalah perilaku penumpang bus di halte (atau stasiun) yang kadang bikin emosi sampai perlu minum jus timun. Coba dibayangkan ya, seberapa besar sih ruang tunggu halte bus, yang mana kadang bus-bus itu cuma menurunkan penumpang doang tanpa ada yang naik, overload kan haltenya. Tapi bisa-bisanya aja loh penumpang yang baru turun itu nggak mau bergeser ke dalam halte dikit. Tindakan yang kaya gini suka bikin kesal karena dua hal antara lain:

1. Penumpang tidak mau geser dari depan pintu padahal bus yang kita tunggu udah datang. Dia bukan menunggu bus yang sama. Otomatis pas orang-orang mau naik, yang insisted berdiri depan pintu akan kesenggol kan? Harap diingat halte dalam situasi penuh sesak. Lalu dengan muka kesel pakai ngomong “mbak jangan dorong dan senggol-senggol dong” pula! Tipe begini bukan cuma bikin membatin dalam hati tapi juga pengen teriak bilang “mbak situ sehat mojok sana biar ngga kesenggol” 😝😝😝😝

2. Penumpang baru turun bis namun tidak mau geser karena bis lanjutannya akan segera tiba. Kalau bis yang datang kosong, saya sih gak apa ya naik belakangan, tapi yang bikin nyesak kan kalau bus yang tiba penuh dan cuma bisa menaikkan beberapa penumpang otomatis yanh naik mereka yang konon baru tiba. Apa kabar kita yang sudah menunggu dari tadi? Sedih kak 😭😭😭

Pada kurang piknik apa gimana ya orang-orang pada ignorant gitu, ga punya perasaan.

Begitulah balada pekerja yang bermukim di Tangsel tapi bekerja di Jaksel 😝. Next time aku mau cerita suka duka naik KRL deh.

 

 

Advertisements