Tanam-tanam tanaman

Sepanjang yang aku bisa ingat, aku selalu punya ketertarikan terhadap kegiatan tanam menanam tumbuhan khususnya di halaman rumah. Kalau ditelusuri ke belakang, ya nggak heran sih. Mulai dari lahir sampai lulus SMP, kedua rumah kontrakan yang pernah kami tinggali memiliki halaman yang luas banget.

Rumah kontrakan pertama, kami tempati dari mulai aku lahir sampai kelas 5 SD deh kalau ngga salah. Rumahnya itu berada dalam satu area yang sama dengan rumah induk yang ditempati pemilik kontrakan. Jadi di depan rumah, di antara gerbang depan dan rumah, halamannya terbagi dua bagian. Satu bagian ditanami rumput biasa, diperuntukkan untuk jalan masuk keluar. Satu sisi lagi ditanami aneka bunga-bungaan. Di belakang rumah, masih ada kebun yang besarnya ampun-ampunan, milik si empunya kontrakan juga, yang ditanami aneka pohon buah-buahan. Ada pohon kemiri, ada pohon coklat, terus ada apalagi ya..aku udah rada lupa sih. Banyak deh pokoknya. Area depan dan belakang ini mutlak dikelola oleh pemilik kontrakan. 

Nah, di samping halaman rumah, ada tanah yang cukup luas, itu bisa kami gunakan dengan leluasa jadi mamiku dulu punya tanaman tomat dan cabe di situ. Labu siam dan kacang panjang juga pernah deh kayaknya.

Kemudian setelah 10 tahun mengontrak di situ, kami pindah ke rumah kontrakan ke dua. Rumah ini pun mempunyai tiga bagian tanah yang cukup luas, yaitu halaman depan, halaman samping, dan kebun yang cukup luas di bagian belakang. Karena di rumah ini hanya kami yang menghuni, maka otomatis semua lahan harus diurus dan dirawat oleh mamiku. Halaman depan itu seingatku ditanami anggrek, lalu tanaman kacang tanah dan ubi jalar. Lahan samping, yang juga difungsikan sebagai tempat jemur kain, ada tanaman tebu dan jambu klutuk. Di belakang, dengan bantuan opung boruku (nenek dari pihak papa) ditanami jagung, ubi, dan pisang. Jagung dan ubi pada saatnya dijual ke pasar oleh opung, abis jualan kita suka dibagi duit buat jajan hehehhe. Selain itu, ada dua atau tiga pohon alpukat susu (atau alpukat mentega?) yang sudah tinggi banget dan berbuah banyak sekali sampai kita harus jual kepada pengepul buah. Sampai mabok deh makan alpukat saat itu.

Setelah menjadi dewasa, berkeluarga, dan kredit rumah sendiri, aku jadi kepengen juga punya tanaman apa kek di halaman rumah. Lumayan lah, walaupun kecil banget (!!!), rumahnya ada halaman. Pernah suami nawarin, gimana kalau halamannya dibuat jadi ruang tamu aja, jadi ruang tamu kita agak lega . Tentu saja aku tolak, karena ya masak rumah ngga ada tanah buat nyerap air hujan sih? Masak ngga ada pohon-pohonnya sih, ga ada ijo-ijonya? Untunglah suami mau mengerti.

Karena aku ngga terlalu suka sama tanaman bunga, maka aku memilih menaman tanaman yang berbuah. Di rumah kita waktu kita di Batam, di halaman aku tanam cabai dan mangga. Ada juga beberapa bunga. Lumayanlah cabainya pernah berbuah beberapa kali sebelum akhirnya mati. Pohon mangganya belum berbuah eh udah keburu ditinggal pindah hehehhe. Sampai sekarang, usia pohon mangganya udah 6 tahun, tapi ngga tau deh apakah akhirnya berbuah atau malah ditebang sama penghuni saat ini. Ngga pernah ngecek lagi sih.

Awal-awal pindah ke Tangsel, kan masih ngontrak tu kita. Ada halaman depannya. Hmmm, tentu saja kutanami cabe keriting hahahaha. Dari sekian banyak yang benih yang disebar, yang tumbuh ada sekitar 4 pohon. Udah pernah berbuah juga.  Pas pindah ke rumah yang ditinggalin sekarang, pohon cabenya aku bawa. Tapi ya gitu, karena ganti tanah, ganti suasana, malah mati cabenya.

Di rumah yang kita tempati sekarang, ukuran halaman depannya kurang lebih samalah sama rumah di Batam. Plus ada lahan sedikit banget di area cuci jemur. Di halaman depan, kami tanami dengan bunga-bunga, cabai rawit, cabai keriting, jeruk kunci, dan mangga. Ada satu pot tanaman kunyit juga, boleh dapat dari teman. Lumayan ya nambah-nambah koleksi hahahaha.

Di halaman samping yang ukurannya kecil banget itu, ada tumbuh pohon jeruk, pepaya, cabai, tomat dan terakhir melon! Jadi halaman samping itu entah kenapa gampaang banget tumbuh tanaman. Jadi kita suka lempar aja biji-biji buah, eh tau-tau tumbuh. Cuma ya gitu, karena ngga ada lahan buat mindahin tumbuhannya, kita biarkan aja mereka bersempit-sempit di situ. Akibatnya, begitu dia besar sedikit jadinya rusak dan mati, karena mungkin tidak mendapat asupan gizi yang cukup, ya kali. Paling yang bisa bertahan agak lama itu pepaya. Itupun, begitu dia mulai mengeluarkan bunga, eh langsung diserbu oleh serangga yang putih-putih halus banget itu loh. Apasih namanya? Akhirnya daunnya menjadi kuning dan kering. Ya sudah, dicabut dan dibuang akhirnya.

Back to halaman depan, so far yang udah berbuah jeruk kunci, cabai keriting dan cabai rawit. Mangganya belum. Ada yang lucu soal tanaman cabe ini. Jadi yang pertama berbuah adalah cabe keriting. Walau pohonnya kecil dan terlihat ringkih, ada buahnya. Lamaaaa aku tunggu-tunggu si pohon cabe rawit berbuah, eh nggak juga kunjung tiba buahnya. Nah kemudian si cabe merah vakum berbuah kan, eh kok malah si cabe rawitnya tiba-tiba pohonnya bertumbuh dengan sangat cepat. Jadi rimbun banget malah. Gak lama, mulai berbuah dan buahnya asli banyak banget sampe aku merinding melihatnya. Padahal aku ngga kasih pupuk apapun loh, ya cuma disiram aja tiap hari. Karena udah gemas, iseng-iseng minggu lalu aku petikin tuh cabe yang udah lumayan besar. Dapat hampir 200 gram loh dari 1 pohon aja. Aku girang banget hahahahha. Aku punya 3 pohon, yang dua lagi saat itu buahnya masih kecil-kecil banget.

F5C153C8-4EAE-4D3E-AA66-3EED64586A48
Hasil panen kesekian, ini yang paling banyak so far.

Ternyata tanam menanam itu enak juga ya dijalani, apalagi kalau hasilnya udah kelihatan kayak gini. Makin semangat hehehhe. Semangatnya sampai pada tahap: liat biji buah-buahan jadi pengen tanam semuanya. Tapi kemudian sadar kalau udah ngga punya tempat buat tanam lagi, jadi patah hati deh aku, huhuhu.

290290C4-18DE-4909-B0AB-10499D1E795B
Tanaman kunyit, sedikit tapi hijaunya mantep

Aku udah mulai coba juga regrow daun bawang, tapi selalu gagal karena aku lupa mengganti airnya secara rutin. Akhirnya lemas dan busuk dek. Nanti aku coba lagi deh, terus ingat-ingat untuk mengganti air secara rutin. Terus, baru tadi malam banget aku coba tanam bibit kemangi. Semoga tumbuh hahahhaha.

Gitu deh kira-kira cerita tentang hobby baruku di bidang tanaman ini. Lumayan banget loh, liat tanaman ijo-ijo gini bikin stress pergi jauh-jauh. Terus kaya ada rasa bahagia gitu loh, kalau pas mau bikin mie rebus, cabe rawitnya boleh ambil dari depan rumah saja, bhahahahaha.

Boleh bantu doakan ya, biar aku punya duit lebih terus bisa beli lahan yang lebih luas buat tanam-tanam tanaman lain. Amin…

Sampai jumpa lagi..

Cheers,

Shien

2019 in one post

Hari ke 19 di bulan Januari 2020, aku baru punya waktu untuk merekap apa yang udah dilewati sepanjang 2019, itu juga waktunya ada karena suatu hal telah terjadi hahahaha. Nanti aku tulisin deh apa yang telah terjadi karena ini merupakan peristiwa yang lumayan penting namun tak kuharapkan akan terjadi lagi di sisa hidupku. Duileeee, bikin penasaran amat mbak?

Yaudah, cerita 2019 aja dulu ya.

Januari 2019

Pertengahan Januari 2019, aku disuruh dinas ke Medan. Padahal ya baru juga balik liburan Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 di Medan. Walaupun aku orang asli Sumatera Utara yang lahir dan besar di Siantar, lalu melanjutkan sekolah dan kuliah di Medan, dapat jodoh di kampus USU, menikah di Medan pula, aku loh ngga pernah yang terlalu suka dengan Medan. Too crowded lah pokoknya, dan agak kurang teratur, hahahaha. Adekku sampai ngomel-ngomel, “Ya ampun kak Shin, kau kok apa kali sih, macam nggak pernah aja kau tinggal di Medan” kalau aku berkeluh kesah di jalanan Medan. Apa kali?Aku pun ngga tau apa itu yang adekku maksud dengan “apa kali”. Yang penting kalau di Medan, yaudah tiba-tiba paham ajalah kalian multi makna dari kata ‘APA”. Jadi yaa, kalau ngga karena orang tua, mertua, dan saudara-saudara masih di Medan dan Siantar, mungkin udah males banget ya ke Medan.

Begitupun dengan dinas, kalau dapat dinas ke Medan aku ngga terlalu excited gimana. Soalnya orang tua kan di Siantar ya, udah sepuh juga. Kalau aku di Medan juga hampir mustahil mereka nyamperin ke hotel tempat aku menginap di Medan. Kalau aku yang ke Siantar juga ngga selalu bisa, karena waktunya kan pas-pasan yak. Paling juga ketemu sama adekku, yang saban lebaran juga biasa liburan ke BSD. Makanan Medan juga yaa enak sih, tapi udah banyaklah di BSD juga makanan khas Medan, sebagai obat rindu ya bolehlah.

Jadi pas Januari ke Medan, aku sama seniorku paling jalan dekat-dekat hotel nyobain berbagai makanan. Nah soal makanan juga parah ni aku, secara ya aku kan bisa makan daging babi dan segala produk turunannya. Di Medan, kalau sama keluarga udah hampir 99% kita pasti makan di restoran yang masakannya mengandung babi. Nah yang 1%nya itu ya aku udah lupa-lupa juga kan, paling dulu pernah makan karena makan bareng teman kantor pas masih kerja di Medan, yang mana itu udah sekitar 12 tahun yang lalu. Hahahahaha.

Jadilah pas  di Medan dengan seniorku yang Muslim, aku cari tempat yang pasti-pasti aja macam:

  • Soto Kesawan
  • Restoran Tip Top
  • Mi Aceh Titi Bobrok
  • Sup Sumsum Tulang Langsa (di sebelah Mie Aceh Titi Bobrok)
  • dan sate Memeng (yang dulu perasaan ruamee banget pas aku kerja di Uniland tapi sekarang sepi).

Segitu aja dulu ya cerita Januarinya. Sekarang kita lanjut ke…

Februari 2019

Februari itu biasa ceritanya ya seputar ulang tahunku ya. Cerita tentang ini udah aku tulis lengkap di post yang Happy Birthday to Me

Maret 2019

Awal Maret, ada BBW, saatnya belanja buku anak-anak untuk stock setahun hahahaa. Selain itu, aku ada dinas ke Pekanbaru. Kuliner Pekanbaru lumayan juga ya, baru kali ini sempat mencicipi kuliner Pekanbaru padahal ini bukan kunjungan pertama lho!

April 2019

Dinas ke Batam! Ha, dibandingkan dengan Medan, aku tuh lebih happy kalau disuruh dinas ke Batam. Bisa sekalian ngecek dan bayar PBB rumah soalnya, hahahaha. Tapi acara Batam kali ini juga lumayan padat sih, jadi aku ngga terlalu bisa ke mana-mana juga, padahal pengen tuh aku makan seafood di kelong jembatan Barelang.

Abis dari Batam, lanjut lagi ke Medan lagi hahahaha. Yaudah gak apa, aku senang aja karena kebetulan waktunya lebih fleksibel dan saat itu adekku lagi pengangguran jadi lumayan deh malam-malam abis kerja bisa kabur keluar hotel bentar.

Abis itu, di bulan April juga kita sekeluarga sempat main ke Anyer, ikut acara gathering kantornya si papa. Aku loh ya udah capek-capek riset makanan apa aja yang layak dicoba di Anyer, ehhh gagal total karena waktunya ngga sempat. Next time deh.

Oh ya, pas bulan April ini, adek aku dan keluarganya yang tinggal di Palembang juga datang ke BSD buat liburan. Liburan apa ya? Lupa hahaha. Terus kita main-main deh ke Puncak terus mampir ke Cimory Riverside.

Abang D genap berusia 6 tahun, dan udah mau masuk SD tahun ini. Hmmm itu artinya bayaran uang pangkal nih, hahahaha.

Bulan April juga kalau ngga salah ya kita mulai puasa dan pantang pra paskah. Hebat loh anak-anak pada ikut puasa dan pantang. Mereka pilih sendiri apa yang akan mereka jalani dan beneran komitmen sama janjinya. Aku aja bolong-bolong puasanya huhuhu.

Mei 2019

Bulan Mei itu mulai puasa ya kalo ngga salah ingat. Ya kegiatan juga ngga jauh-jauh dari kegiatan buka puasa bersama.

Eh nggak ding, sebelum puasa, pas banget awal Mei, aku dan si papa ikutan trip bareng anak-anak kantor ke Bangkok! Lumayan ye, ninggalin anak sekejap dan menikmati waktu berdua saja. Di Bangkok adalah kita nyobain berbagai macam kuliner khas, dan kita suka. Aku jadi teringat dulu pas sekolah di Glasgow aku suka banget ke salah satu restoran Thai di daerah West End. Rada jauh dikit tapi ngga ada apa-apanya dibanding kelezatan makanannya. Makanya pas diajakin ke bangkok, aku langsung mau dan daftar! Pengen nyicipin langsung hahahaha.

Udah gitu, di bulan ini juga aku mengikuti kegiatan pertanggungjawaban proyek ALP, sehubungan dengan diklat karir yang aku ikuti di tahun 2018. Kegiatan ALPnya sendiri berjalan lancar ya, walaupun pas di awal-awal aku merasa agak minder mengingat proyekku nggak se “wow” temen-temen yang lain. Aku ngga punya alat bantu apapun selain slide power point, padahal teman-teman sampe segala bawa banner dan poster lho! Udah gitu, pas waktunya presentasi, aku harus mengakui juga bahwa proyek ini belum dijalankan karena program induk dari proyekku ini masih ditahan alias belum disetujui sama direktur. Kebayang ngga sih miris banget presentasiku hari itu. Kayak yang “hello, buat apa lo di sini, proyekmu aja belom dijalanin” hahahaha.

Tapi at the end of the day, jurinya baik banget sih. Dia bilang “idemu ini simple, sangaaat sederhana dibanding teman-temanmu yang lain. Tapi saya suka karena menurut saya itu applicable dan terukur hasilnya. As soon as program induknya disetujui, kamu lakukan ya projectmu!” Huaaaa, itu aku keluar dengan hati bahagia tapi pengen nangis karena ngga percaya. Masa sih? Masa sih komentarnya begitu? Salah denger kali aku?

Ya maaf, NORAK emang hahahaha. Yaudahlah, yang penting hutang-hutang terkait diklat karir sudah aku selesaikan. Dan ya, trimester ketiga, saat program induknya disetujui, proyeknya tentu saja kujalankan walaupun sudah tidak dinilai lagi sama jurinya.

Juni 2019

Libur Lebaran! Dan yes, seperti yang udah aku bilang sebelumnya, adekku dan keluarganya datang ke BSD karena kita mau roadtrip ke BALI! Wohooo. Lumayan pas timing kita pergi, ngga macet sama sekali di Cikampek dan kita tetap berada di tol sampai exit terakhir di Probolinggo Timur. Well, ada sih kita nginap semalam di Surabaya. Di Bali perasaan cuma 3 malam apa ya, terus balik lagi ke BSD dan jalanan juga super lancar. Semua happy deh. Oh ya, pas pulang, kita menginap semalam di Banyuwangi dekat banget sama pelabuhan Ketapang. Terus di situ kita ketemuan sama sahabat-sahabat keluarga kita yaitu The Sembirings dan The Sidabutars. Yang satu emang lagi liburan di Banyuwangi, yang satunya emang baru nyampe di Banyuwangi mau liburan di situ juga.

Bulan Juni juga si kakak M ulang tahun kan, anak ini manis banget ya ampun. Masak birthday requestnya cuma Ayam Goreng Tepung dan Bakwan Sayur buatan mama. Udah gitu aja, ngga mau dibeliin kue atau apalah. Tapi sorenya kita tetap keluar sih, ke bioskop nonton film. Beneran, simpel banget anak gue hahahaha. Siapa dulu mamanya ya kan!

Juli 2019

Awal Juli, aku kebagian dinas lagi ke Bali. Nah ini rekan dinasku bukan teman satu divisi, melainkan dari divisi lain. Bukan dinas bareng pertama sih, sebelumnya udah pernah bareng pas ke Batam tahun 2018. Selama di Bali, kita lebih ke nyobain aneka kopi sih. Setiap ada waktu luang kita kabur buat nyari tempat kopi yang kecil dan lucu-lucu hahahaha. Tapi yang paling berkesan pas kita ngopi ke Revolver sih, asli ya mau masuk aja ditanya dulu sama petugas pake kacamata item, pakai headset, dan Walkie Talkie. Sampai di dalam, weleh itu yang orang lokal cuma kita doang perasaan, sisanya turis asing semua. Enak sih tapi kopi dan makanannya.

Abis dari Bali, beberapa waktu kemudian aku dinas ke Lampung dan Palembang. Di Lampung less than 12 jam malah, untung aja sempat bungkus bakso Sonny yang famous itu hahahahah. Nyampe di Palembang juga kita ngga terlalu sempat ke mana-mana, aku paling sempat ketemu adekku yang kerja di sini aja sebentar. Udah, abis itu pulang deh. Tapi tekwan dan pempek sempat makanlah, jadi hidangan rapat di kantor.

Agustus 2019

Agustus aku ngga begitu ingat ya ada apa, paling ingatnya akhir Agustus aku ada workshop di Bandung. Terus kebetulan banget abis nontonin video Nex Carlos yang tentang ayam goreng SPG. Jadilah aku mesen itu via Gojek, hahahaha. Selain itu, tentu ku menyempatkan diri pergi ke Sejiwa buat minum es kopinya. Pergi sendiri tentu saja, just because aku ga masalah banget harus pergi sendiri atau makan sendiri, atau nonton bioskop sendiri. Belajar dari pengalaman ya, kadang kalo janjian sama temen malah banyakan ngga jadinya. Apalagi buat aku yang lebih seneng diam daripada mesti ngobrol (sama orang yang ngga dekat-dekat amat). Jadi kadang, kalau emang ada waktu, yaudah aku jalan aja sendiri, toh Gojek, Grab, dan Blue Bird di mana mana udah ada kan.

September 2019

Awal September aku dan temen kantor ada ikut workshop “Report Writing” di Learning Center kantor di Bogor. Bogor itu gimana ya, dikata jauh tapi dekat. Dikata dekat ya capek juga pulang pergi ke sono naik KRL, hahahahha. Jadi kita workshop itu Kamis dan Jumat, dan aku pulang ke rumah (ngga nginap) dengan menumpang KRL. Asli capek banget sih. Tapi lumayan deh, hari Jumatnya pas sholat Jumat, aku, Murni, dan Gleys (anak-anak Batam Nagoya pada masanya) nyempatin ke Soto Mie Agih buat makan siang.

Udah gitu Sabtunya balik ke Bogor lagi karena sepupu aku nikah. Nikah sepupu ini lumayan jadi ajang lepas rindu sih. Terakhir kali kumpul lengkap gini udah lama banget deh, pas aku SMP apa ya. Ternyata banyak sekali lho sepupu dan sodara-sodara aku yang tinggal dan bekerja di seputaran Jakarta dan Jawa Barat, tapi kayak baru bisa ketemu ya pas acara nikahan itu.

Akhir September aku ada dinas lagi ke Semarang include Ungaran. Nah, Semarang dan sekitarnya ini punya banyak hidden gems deh menurut aku. Pokoknya selalu menyenangkan deh bisa berkunjung ke Semarang. Tentu saja karena dari Ungaran, kita tak lupa memborong tahu baxo sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang.

Oktober 2019

Bulan ini kebagian dinas lagi ke…

Yak, Palembang hahahaha. Ketemu tekwan lagi deh. Asli ya, pas ditawarin sama kantor, mau disajikan apa sebagai kudapan rapat, aku dengan polos minta “tekwan yang macam tempo hari dipesan” hahahahahha. Abis enak banget sih! Padahal belinya di pinggr jalan loh kata temen kantorku. Di sela-sela pekerjaan, adalah kita se tim nyobain LRT, hahahahha. Di dalam LRT kita sibuk bertanya “Kok nggak rame ya? Padahal lumayan loh, adem dan stopnya juga nggak yang terlalu jauh banget dari pusat keramaian.” Pertanyaan yang sampai saat ini belum terjawab karena emang ngga niat-niat banget juga cari tau penyebabnya hahahha.

Abis dari Palembang, kita bergerak ke Ibukota Propinsi Banten yaitu Serang. Kan April lalu pernah tuh aku ke Anyer, tapi kan ngga mampir ke kota Serangnya. Jadi ternyata, Serang ini diam-diam tempat makan yang otentiknya asik-asik juga lho. At least, kita nyobain makan di RM Taktakan yang spesialis jual sup ikan dan RM Saung Liwet Bancakan. Sup ikan di RM Taktakan ini beda tipe ya sama sup ikan batam, walaupun kuahnya sama-sama bening, yang ini jauh lebih berempah sehingga lebih segar aja rasanya. Kalau di Bancakan, makanannya juga enak-enak, apalagi ayam kampung gorengnya hmmmm…juara!

Karena Serang ini terhitung dekat dari BSD, jadi pengen deh ngajakin si papa dan anak-anak ke sini buat kulineran. Ngga usah sampai Anyer, cukup di Serang aja.

November 2019

Akhir November kita ada dinas lagi ke Jogja. Jogja is always good idea, yes? Lumayan deh, sempat ke museum Ulen Sentalu, sempat makan bakmi Mbah Gito, makan Gusto, dan sempat makan oseng mercon yang jujur aku ngga ngerti di mana letak nikmatnya saking pedesnya. Tapi kalau perginya rame-rame mah, dibawa santai ajalah ya kaaaan… Ujung-ujungnya ketawa ketiwi bareng itu yang bikin perjalanan dinas makin nikmat! Pulang dari dinas yang ini, for the first time aku naik kelas bisnis dong hahahaha. Sekarang mari mimpi supaya suatu saat nanti, entah kapan, bisa naik first class. Amin.

Desember 2019

Desember tahun ini memang kita tidak merencanakan mudik ke Medan, karena sesuatu dan lain hal, jadi kita aman dari tiket pesawat yang harganya bikin sakit kepala hahahahaha. Tapi jangan dikira bulan Desember itu kita santai-santai lho! Justru kita ada beberapa agenda kantor yang musti diselesaikan.

Awal Desember, urusan kita bikin suatu workshop yang emang dilakukannya mesti di akhir tahun karena ngikut jadwal dari konsultannya. Ini acaranya cuma dua hari dan di Jakarta jadi oke lah ya.

Nah, minggu depannya kita ada dinas lagi ke Bali buat nyelesaikan suatu proyek. Nah di sini nih tanda-tanda kelelahan dan beban pikiran bertambah sudah mulai kelihatan. Jadi pas mau berangkat ke Bali itu, kita ambil flight paling malam, karena emang mau nggak mau mesti ngantor fulltime dulu di hari itu.  Karena banyak kerjaan, lupalah aku mobile check in, sehingga pas aku ingat untuk melakukannya, sudah tidak adalagi bangku tersisa. Ada sih tapi paling belakang, dan aku males yee duduk di paling belakang. Sehingga, akhirnya aku duduk di bangku yang letaknya persis di depan pintu darurat. Dengan demikian, itu bangku tidak bisa aku mundurkan untuk mendapat posisi yang lebih rileks. Jadilah sepanjang jalan aku udah pusing dan mual, mau tidur tapi banyak pikiran bla bla bla. Pas di pesawat dikasih makanan, aku makan juga walaupun sebenarnya udah makan juga (sup jamur) di lounge. Kirain abis makan di pesawat bisa jadi lebih rileks, ternyata malah tambah mual.

Sampai hotel, udah jam 1 dini hari, terus aku langsung bebersih dan tidur. Tidurnya ngga enak tapi, bener aja, pas bangun pagi aku langsung sukses muntah. Abis muntah mayan sih lebih membaik. Lalu aku pergi sarapan, abis sarapan aku ijin istirahat sebentar sementara yang lain udah mulai mengikuti acara. Makin siang makin enakan, sehingga sorenya bisa pergi ngopi hahahahha. Seterusnya udah membaik, sih sampai kembali ke BSD.

Senin Minggu depannya, entah kenapa tiba-tiba badan cape banget dan batuk melanda. Selasa makin batuk, padahal Rabu mesti pergi ke Medan buat dinas. Manalah ke Medannya kita ngga dapat pesawat langsung, jadi mesti transit di Padang dulu untuk beberapa jam. Itu di pesawat ya asli udah kaya apa hahahahaha. Miris. Sampai di Medan udah malem, sebelumnya aku mampir dulu ke apotek buat beli obat batuk. Abis tidur, besok paginya i feel better, bisa mandi dan sarapan. Cuma pas acara, ruangannya dingin banget apa gimana, aku jadi drop lagi trus pas coffee break ijin buat istirahat ke kamar. Pas istirahat makan siang, temen sekamarku, Mbak A masuk dan ngecek suhu badanku ternyata udah panas banget, padahal aku sedang selimutan dan menggigil kedinginan hahahaha. Langsung dia dengan tegas bilang, “ayo kamu bangun, kita ke UGD sekarang”. Aku sempat bilang, udah deh ngga usah, tidur doang pasti sembuh nih. Tapi mbak A bilang, ‘no way, cepetan! Dari kemarin kamu tidur juga ngga membaik!”. Yaudah, buru-burulah aku dan Mbak A serta mas A ke bawah karena mobil yang buat ngantar ke IGD udah siap di lobby.

Sampai di IGD, lumayan langsung dapat slot tempat tidur, karena sehabis aku masuk, kayaknya ruaamee banget orang yang masuk IGD dan ngga kebagian tempat tidur. Langsung dicek ini itu, terus diinfus deh. Lumayan lama sih, kaya ada 3 atau 4 jam aku di IGD baru dinyatakan boleh pulang karena udah membaik. Tadinya, aku mau ke Siantar nih selesai dinas, karena lumayankan acara selesai Jumat, bisa nyambung Sabtu Minggu kan, cuma karena kondisiku ngga memungkinkan, aku minta ortu yang ke Medan. Lamaaa deh prosesnya sampai mereka bilang iya, ya karena udah tua juga kan ya udah ribet lah. Eh tapi aku ngga cerita sama sekali bahwa aku sempat harus masuk IGD ke mereka, nanti stress pula. Syukurdeh akhirnya kita bisa ngumpul di Medan, karena kebetulan adekku yang di BSD juga pulang, dan adekku yang tadinya di Palembang udah pindah ke Medan. Jadi bisa berkumpul berempat dengan orang tua, minus adekku yang di Kalimantan sono. Selama di Medan, aku merasa baik-baik aja selama aku minum obat tepat waktu, begitu lewat sedikit aja, udah kaya apa, langsung drop lemas kaya mau abis nafas gitu!

Sampai BSD, di rumah udah lumayan deh ada MIL, ada SIL jadi walaupun aku terkapar sakit, rumah ngga sepi-sepi amat. Itu asli deh, aku keluar Cuma ke gereja 24 malam dan 25 pagi, selebihnya dari tanggal 21 Desember aku kerjanya Cuma makan dan tidur dan repeat!

Yang lucu, di tengah-tengah sakit, tanggal 26 kami sekeluarga (dengan MIL dan SIL) roadtrip lagi ke Bali dengan persiapan yang minim hahahaha. Itu asli aku cuma berdoa aja sama Tuhan, jangan sampai diriku ini jadi beban bagi orang-orang di mobil huhuhuhu. Aku banyakin minum, banyakin makan buah (beli di rest area hahaha), dan minum obat tepat waktu. Satu malam mampir di Surabaya, MIL dan SIL nginap di rumah saudara tapi aku dan anak-anak memilih nginap di hotel biar benar-benar bisa istirahat. Namanya di rumah saudarakan ngga enak juga kalau kita langsung tidur ngga ngobrol dulu toh. Padahal all I want is a good and deep sleep,  karena sesakit apapun, aku ngga bakalan tidur kalau si papa nyetir. Jadi aku butuh tidur, supaya sisa perjalanan ke Bali aku bisa bangun. Besokannya, sebelum meneruskan perjalanan kita diundang makan di rumah makan khas Padang milik sepupunya suami. Mau nangis aku makannya, enak banget BANGET!!!! Setelah dari sebelum dinas ke Medan aku ngga bisa makan apapun, kali itu aku makan sampai NAMBAH!!!

Sampai di Bali, gitu deh ya, MACET, hahahaha jadi ya harap bersabar aja kalau ke mana-mana bisa berjam-jam padahal jaraknya dekat.

Sampai Bali, aku membaik, lah kok ya suami aku yang gantian sakit. Duhhh, sedih banget ngga sih. Sampai akhirnya balik dari Bali, itu suami nyetir sambil sakit badannya. Dia maksain karena dapat kabar dari adekku bahwa komplek kami kebanjiran. Air di kamar mandi udah tinggi banget (kamar mandi emang jeuh lebih rendah dari ruang tamu), ruang tamu dan ruang makan sih cuma basah-basah gitu aja ngga sampai yang harus jemur atau buang barang. Thank God kita bisa sampai ke rumah dalam ke keadaan selamat.

Begitulah tahun 2019 dalam satu postingan, sudah pasti panjang sekali, tapi aku sukaaaa karena sedang ada waktu nih beberapa hari ke depan. Kayaknya bakal rajin posting cerita dan atau review di Tripadvisor deh ini hahahaha.

Bye Bye dulu ya!

Pertama kali terbang naik kelas bisnis

Apakah judul post ini sudah menggambarkan kenorakan penulisnya?

Tadinya ragu sih apakah akan ditulis di sini atau nggak, pengen ditulis tapi kok takut dikira norak, ngga ditulis tapi kan ini pengalaman berharga yang baru sekali terjadi seumurku ini. Akhirnya aku pikir BODO AMAT DAH ditulis aja hahahahaha.

Jadi akhir November lalu aku dengan beberapa teman seruangan pergi ke Jogja kan. Abidin tentunya yes. Udah pada tau belom abidin? Atas biaya dinas. Ini kosa kata baru yang aku dapat dari blogger kece @irrasistible. Maklumlah shay, aku kalau punya waktu luang kan demen bener baca (blog maupun feed IG orang). Saking doyannya baca, aku mau mengajukan diri nih jadi duta baca ke mas Menteri Nadiem.

Sampai di sini paham ya? Oke.

Nah, sehari setelah mendarat di Jogja, my roommate Mbak A mesti kembali segera ke Jakarta for personal purpose, ada yang urgent. Nah karena sekamar, tentulah aku tau banget proses pindah jadwal pesawatnya. Awalnya ingin jam sekian, udah oke, kemudian mikir-mikir lagi, lalu pindah jadwal lagi, repeat. Nah, yang aku paham, mbak A itu ngga bisa dapat jam yang paling cepat karena seat untuk sub kelas Y udah full. Kalau mau bisa upgrade ke sub kelas O dengan menukarkan 4xxx milespoint. Ini kemudian jadi pembahasan kami saat mengantarkan Mbak A ke bandara, perasaan sub kelas Y itu udah yang paling atas untuk penerbangan kelas ekonomi, sehingga kalau kita ingin reschedule tentunya bisa-bisa aja tanpa tambahan biaya apapun selama seat tersedia. Lah kok malah ditawarin tukar miles biar dapat seat? Ada apa sesungguhnya? Sungguh pembicaraan yang amat bermanfaat, karena setelah kembali lagi ke hotel, aku lalu mencari tau tentang kelas O. Dan ternyata…

Pas digoogle nggak ada tuh info tentang sub kelas O Garuda hahaha. Antara aku salah dengar informasi dari Mbak A, atau emang aku masukin keyword yang salah saat google, atau malah emang ngga ada kelas O tersebut. Ya sudah lah yaa..

Anyway…

Aku lupa deh tuh soal subkelas O ini sampai besokannya ketika teman-temanku mulai terdengar kasak-kusuk pada ingin memajukan jadwal penerbangan dari yang semestinya. Awalnya aku ngga terlalu gimana-gimana kan, karena aku pikir toh mau dimajukan seatnya juga sudah pasti penuh. Nah terus ada salah satu temenku, sebut saja A, yang cari tau kan ke kantor Garudanya langsung, infonya seat tersedia tapi untuk kelas bisnis. Terus nanyain, mau sekalian diubahkan jadwal penerbangannya nggak? Ya aku bilang kalau bisa, minta tolong ubahkan, dipotong miles gak masalah. Kalau tidak bisa atau jam take offnya ngga terlalu jauh berbeda dengan jadwal awal, yowis aku ikut jadwal semula aja. Ternyata bisa loh, aku dipotong sebanyak 4600 miles untuk upgrade kelas!

Eh tau tau gak berapa lama ada temenku yang lain, sebut dia mas K, cerita kalau dia udah berhasil dapat seat bisnis untuk jadwal kepulangan yang dia mau. Terus, temanku yang lain juga cerita lagi tentang hal yang sama. Oh ya, demi asas keadilan, maka inisial temanku ini juga akan kucantumkan di sini. Panggil dia mas E. Hahahaha.. You know what guys, hari itu adalah hari di mana aku terlibat dalam pembicaraan dengan kosa kata “kelas bisnis” terbanyak dalam hidupku. Lalu berpikir, ohhh gini kali ya kalau jadi kaum jetset, naik pesawat pasti bicaranya bisnis lah, hahahaha. Norak kan aku? Iye norak, udah tau.

Jadi begitulah pas udah mendekati jadwal kepulangan, sebagaimana anak kecil yang mau naik pesawat pertama kali, begitu pula aku. Deg-degan ngga sabar tapi sekaligus cemas. Kalau soal masuk lounge sih aku ngga cemas, dulu pas Gold masih bisa masuk kan udah pernah ngerasain. Setelah Gold dilarang masuk lounge juga aku sebenarnya tetap bisa makan di lounge as long as aku dinas sama teman yang udah PLATINUM. Terus soal bagasi juga udah ngertilah ntar ngambilnya di mana pas nyampai CGK, terus sambil nunggu bagasi bisa ngopi-ngopi dulu, secara yaa suka nebeng bagasi sama teman dinas yang platinum tadi. Temanku satu urusan udah platinum semua soalnya. Jadi kalau dinas bareng mereka, aku ikut merasakan benefitnya juga hahahaha.

Back to cemas-cemas topic, aku lebih cemas ke hal-hal teknis semacam: Gimana nanti kalau aku mau nonton? Cara buka TV lipatnya gimana? Pas pengen makan, mejanya dibuka dari sisi kursi yang mana? HAHAHAHAHA. Lalu cemasku berkurang setelah aku dapat solusi! Aha, tar kalau ternyata ribet, AKU TIDUR AJA DEH. Solusi yang sangat yenius sekali, bukan? Tau gitu aku ga perlu cemas, buang-buang waktu aja!

Fast forward to waktu udah masuk pesawat. Bisnis bisa masuk duluan kan. Mumpung masih sepi, poto-poto dong!

WhatsApp Image 2019-12-11 at 22.27.55

Terus abis itu dikasi welcome drink dan hot towel. Terus ditawarin mau bacaan apa. Koran ada, majalah ada. Terus abis itu aku observasi tuh tombol-tombol di sekitar kursi aku. Oh ini buat aktifkan foot rest, oh ini buat menurunkan sandaran. Oh meja makannya dikeluarin dari sisi ini, while TVnya dari sisi sebelah sono. Oke, got it. Semuanya sukses aku cobain (setelah take off) dengan tingkat PD yang lumayan tinggi karena penumpang sebelah aku tidur sesaat setelah duduk dan pasang seatbelt. Kalau sambil diliatin kan grogi juga yaak..

Setelah take off beberapa waktu, makanannya datang. Hangat. Disajikan di piring yang proper lengkap dengan peralatan makannya. Walaupun rasanya biasa aja, tapi karena hangat jadi tambah nikmat deh. Minumannya pun disajikan di gelas. Aku juga melihat pramugarinya bawain segelas air dikasih irisan lemon ke salah satu penumpang. Wow, langsung kagum, bisa ada lemonnya segala ternyata hahaha. Maklum yha, biasakan di ekonomi cuma makan roti sama kacang doang plus air minum dalam kemasan hahaha.

WhatsApp Image 2019-12-11 at 22.31.11

Karena jarak tempuh JOG-CGK juga ngga terlalu lama, rasanya sih, abis makan, aku nonton bentar, terus udah siap-siap mau landing. Yaah, cepat amat, padahal filmnya belum selesai setengahnya aku tonton. Terus aku perhatikan sekeliling, ya kayaknya yang heboh sendiri nonton cuma aku doang sih, hihihihi. Yang lain nggak tuh. Nah, masalah nonton ini, ternyata penumpang ekonomi menang banyak yak.. Sejak duduk kan sudah boleh nonton, mau take off mau landing ngga terganggu karena ngga mesti ngelipet-lipet TV sesuai prosedur.

Setelah mendarat, sambil nunggu bagasi minum dulu di premium arrival lounge, terus abis itu ya udah. Kembali ke dunia nyata sis, ngantri tiket Damri, hahahaha.

Jadi begitu deh pengalaman pertama naik bisnis. Semoga bukan pengalaman terakhir ya.. Malah, aku berharap ntar punya kesempatan nyobain first class. AMIN. Kalau udah pernah bisnis, ntar kalau naik first class harusnya ngga bego-bego amat kan yak? Hahaaha.  Mimpi dulu ngga mengapa kaaan?

Sekian dulu cerita kali ini, bye-bye..

 

 

 

Hakuna Matata

Siapa yang udah nonton Lion King bareng anak-anaknya?

Si kakak itu nungguin Lion King itu sudah dari tahun lalu kayaknya deh, atau paling nggak dari awal tahun ini. Aku ingat banget dia ngomong “Kakak hanya mau nonton Lion King tahun ini, nggak mau nonton yang lain sebelum Lion King”. Lumayan konsisten sih dia, Dumbo dia nggak nonton, tapi Aladdin nonton. Terus The Lego Movie II juga nonton, The Secret Life of Pets II nonton, The Toys Story juga nonton. Lah, banyakan nontonnya daripada nggak, gimana sih kakak? Hahahahaha.

Anyway, jadi akhirnya kita nonton Lion King sore-sore abis anak-anak les hari Sabtu. Aku kondisinya abis pulang dinas tuh Sabtu siang langsung ke les anak, abis les kita makan sebentar langsung nonton. Pas pertama kali nonton aku udah merasa agak bosan ya, terus aku ketiduran deh hahahahha. Sadarnya pas si Kakak bangunin “Ih mama kok malah tidur sih?”. Ya elah kak, mama capek loooo dan bosan. Ya jadi gitu deh, anak-anak sih senang sekali menontonnya, masih dibahas-bahas, bukunya malah jadi dibaca-baca ulang, lagunya bolak balik diputar, gitu-gitu lah.

Jadi, beberapa hari setelah nonton, seperti biasalah ya pulang kerja aku monitor PR anak-anak dan menemukan fakta bahwa si kakak itu belum mengerjakan PR karena buku teks pelajarannya hilang ngga tau ke mana. Ngomel kan ya aku, masa buku ilang coba? Aku suruh cari ke mana-mana, eh anaknya ngotot bilang ngga ketemu. Akhirnya capek ngomel lalu aku bilang kalau begitu besok kakak harus meminta maaf sama bu guru ya karena tidak mengerjakan PR! Anaknya jawab santai abis “iya maa, santaii”. Kakak, ini mama serius loh, kamu kehilangan buku itu aja udah lalai namanya bla bla blaaa… Ngomel lagi 😀

Bosen dengar aku ngomel pusing kali dia ya, terus dia cuma bilang, “Mama, HAKUNA MATATA”..

Hah apa tuh artinya kak? lalu dia jawab “Ih mama, makanya kalau di bioskop tuh nonton bukan malah tidur. Itu artinya Dont worry mama, dont worry. Tenang aja, besok kakak ngomong ke bu guru kok”

Hahahahaha, bisa aja nih anak bikin mamanya speechless 😀 😀

 

 

 

 

 

Jalan-jalan ke Anyer

Sabtu lalu, 13 April 2019, kita jalan-jalan ke Anyer dooong dalam rangka ikutan family gathering kantornya si papa. Kita semua senang sekali karena ini kali pertama kita sekeluarga ke Anyer.

Jadi dulu pernah sih tercetus ide pengen ke Anyer kalau ada libur. Trus akhir tahun lalu tak disangka-sangka ada musibah tsunami yang melanda daerah pantai di Anyer kan. Jadi ya udah ngga kepikiran lagi pengen ke situ. Tapi kok tiba-tiba si papa ngajak ikutan acara kantornya, yaudah ayok deh hahahha.

Jadilah Sabtu sore abis anak-anak les kita langsung berangkat ke Anyer. Jarak antara Anyer dan Jakarta (kita jatuh cintaaa *lalu nyanyi*) eh sori diralat, Serpong dan Anyer itu sekitar 2,5 jam perjalanan gitu deh. Kita berangkat sekitar 14.30, terus lihat google map ternyata ada macet dikit di dekat Vila Melati Mas, lalu dengan sok tau kita cari jalan sendiri sampai ke Kawaraci hanya untuk masuk tol arah ke Merak. Pilihan yang salah sebetulnya, karena lewat Karawaci justru makin jauh dan muaceet. Akhirnya kita masuk tol aja deh gitu yang penting. Baru bentaran di jalan tol, eh hujan turun deras sederas-derasnya. Yaudah masuk rest area dulu kan karena emang berkabut banget, beli Sbux dulu sambil nunggu hujan reda. Pas udah mulai reda, kita siap-siap mau jalan ninggalin rest area, ealah bocah lihat ada Indomaret, langsung request beli cemilan. Kapan sampainya ini baru jalan bentar jajannya udah banyak bener hahahahah. Setelah berpuluh kilometer melaju di tol, akhirnya kita keluar juga di Cilegon Barat lalu masuk komplek industrinya Krakatau Steel dkk untuk menuju ke daerah pantainya.

Kondisi jalan abis keluar tol sampai ke hotel kita itu bagus banget, cuma belum terlalu lebar ya. Mana banyak motor-motor yang jalannya sesuka hati, jadi kita bener lambat dan hati-hati banget saking takutnya nyenggol motor.

Akhirnya sampailah kita di hotel kita namanya Pesona Krakatau kira-kira jam 17.30 kali ya.

Setelah check in, kita langsung lihat pantai dulu soalnya sun setnya udah mau abis. Tapi sempat sih foto-foto dulu. Abis itu kita ke kamar kita, yang viewnya laut. Oh ya, bukan cuma view sih, melainkan depan kamar itu udah pantainya langsung! Wohoooo, cakep ngga tuh, hahahaha.

Suasana Kamar kita
Sunset di pantai dan suasana kolam renang

Si papa dan abang sih langsung tukar baju dan main di pantai. Setelah itu pindah lokasi lagi ke kolam renang. Si kakak yang tadinya males main di pantai malah sekarang pengen ikutan berenNg juga. Yaudah berenang deh mereka malam-malam.

Abis berenang dan mandi lalu kita bergabung dengan rombongan terus makan malam di area kolam renang, barbeque gitu deh. Anak-anak dapat kado, lumayan deh jadi pada senang. Karena udah cape banget, jam setengah sembilan aku dan anak-anak pamit balik duluan ke kamar buat istirahat. Bapak-bapak sih lanjut ngobrol sampai tengah malam.

Di kamar, secara umum oke sih, cuma tuas buat nyalain showernya aja suka copot-copot kalau dipakai karena murnya ilang. Terus ada satu tempat tidur yang lumayan kencang bunyinya kalau kita bergerak. Yang lain oke sih, bersih juga, perlengkapan standar ada semua. Bahkan sandal aja kita dikasih sandal yang kuat yang bisa dipakai ke pantai loh!

Buat orang yang kalau tidur suka sensitif sama suara, pasti bakal terganggu sih sama suara ombak yang semakin malam semakin kuat aja kedengarannya, setidaknya itu yang aku rasakan. Jadi tidur bentar, eh kebangun karena suara ombak. Sebetulnya ada sih kamar yang nggak menghadap laut tapi menghadap kolam renang, tipe villa yang isi dua kamar gitu. Kalau mau yang lebih tenang bisa pilih tipe itu. Tapi kalau mau lebih dekat dengan alam, cocok deh yang beach view gini.

Besok paginya, jam 6 kita udah bangun dan langsung ganti baju mau main ke pantai lagi. Anak-anak senang banget main pasir sama berendam di air laut. Lalu nggak puas cuma main pasir dan main air laut, mesti pula mereka minta berenang lagi di kolam, hahahaha. Yaudah ikutin aja maunya.

Bangun tidur langsung ke pantai

Jam setengah 9 pagi kita balik ke kamar lalu mandi lalu pergi ke restoran buat sarapan. Sarapannya lumayan komplit, ada nasi goreng, mie goreng, pecel, sereal, bubur ayam, bubur kacang ijo dan juga roti tawar dengan aneka selai. Ada egg stationnya juga. Lumayan deh anak-anak pada lahap makannya. Setelah sarapan yang cukup, kita balik kamar. Anak-anak nonton TV sementara aku tidur dulu santai-santai sebelum checkout.

Segini aja mainannya anak-anak udah senang banget

Jam 11 kita check out, tapi belum langsung pulang. Masih main ayunan dulu anak-anak sampai mereka puas, terus lari-larian, terus abis itu sesi poto bareng deh.

Pas pulang, kita nggak langsung lewat tol, melainkan lewat jalan biasa sampai ke kota Serang, lalu baru setelahnya masuk tol ke arah Tangerang.

Senang banget punya pengalaman jalan ke Anyer, belum puas sih, soalnya kita belum sempat kulineran padahal aku udah siapin daftar loh mau makan di mana aja. Lain kali kita ke sini lagi ya pa *colek si papa*.

Review : Lautan Seafood Pasar 8 Alam Sutera

Aku ini lagi off IG dan Twitter for a while padahal aku baru aja makan di Pasar 8 yang menurutku enak banget with affordable price. Jadi ya sudah cerita di sini aja yak, keburu lupa ntar. Padahal koleksi foto-foto makanan mah tempatnya di IG sebenarnya hahahahaha.

Jadi hari Sabtu yang lalu, abis dari kondangan sepupu, kita kelaparan tapi terlalu malas untuk masak. Lalu mau bagaimana lagi kan, keluar deh kita cari makan. Tadinya mau makan nasi uduk di Pasar 8 Alam Sutera, jadi ya sudah kita jalan deh ke Pasar 8. Pas di pintu masuk, ambil tiket, kan langsung belok kanan tuh. Kita ngelewatin tempat makan seafood tenda gitu yang rame banget. Niat kita mau makan nasi udukpun bubar! Hahahaha, seketika kita ingin cobain makan hasil laut aja. Setelah dapat parkir, kita jalan ke tendanya, kebetulan ada meja kosong jadi bisa langsung dapat tempat duduk. Terus kita pesan seporsi cumi goreng mentega, seporsi kerang tahu tauco, satu ekor kepiting dimasak saos padang, dan seporsi tumis kangkung. Semua itu buat dimakan 3 dewasa dan 1 orang anak. Anak yang 1 lagi sedang mogok makan, maunya sate, hahahaha. Untuk minuman, kita pesen dua gelas teh manis hangat, karena bawa air putih lumayan banyak juga dari rumah.

Pas datang, begini penampakannya:

img_3544
Tumis Kangkung, Cumi Mentega, Kepiting Saos, dan Kerang Tahu Tauco

Lumayan meyakinkan kan penampilannya? Bagaimana dengan rasanya? Ternyata rasanya juga enak kok, khususnya kerang dan kepiting. Kalau cuminya cenderung biasa aja sih, enak tapi bukan yang enak banget.

Overall, kita puas makan di sini, apalagi pas bayar ternyata nggak terlalu mahal. Kerang dan cumi itu per porsi sekitar Rp 35 ribuan, kangkung kalo ngga salah Rp 15 ribuan, kepitingnya yang rada mahal lebih dari Rp 200 ribu per kilonya, jadi tergantung beratnya yaa. Ini pas yang dipesan kepiting telur pula, jadi mungkin lebih mahal lagi. Mungkin loh ya, karena yang bayar si papa tu, pas ditanya bayar berapa, dia sudah lupa! KZL deh cepat amat lupanya, hehehe.

Kalo pas lagi di Alam Sutera dan pengen makan malam, ini boleh banget jadi pilihan.

 

 

 

Pengalaman tak terlupakan di Pekanbaru

Aku baru aja pulang dinas dari Pekanbaru, jadi ada undangan dari Kanwil di sana untuk mengisi slot acara di acara mereka, senior aku sih yang diundang, tapi sama senior aku didaulat untuk ikut. Siaap senior 😀

Sebetulnya, ini bukan kunjungan pertamaku ke Pekanbaru. Pas masih ngantor di Batam, dua kali kita sekantor ke Pekanbaru buat Employee Gathering karena Kantor Wilayah kita memang di Pekanbaru, jadi karyawan sekanwil dikumpulkan di situ. Sebelumnya juga pernah deh waktu aku mau ke mana abis dari mana, transit di Pekanbaru juga. Tapi di semua kesempatan itu, aku ya nggak sempat eksplor kotanya. Jangankan eksplor, makan aja makanan di hotel doang palingan 😂. Eh tapi nggak juga sih, pernah juga deh aku dan temen-temen se geng di kantor kabur ke salah satu mol pas EG. Kita jajan Sushi Tei di bazaar gitu, abis itu balik hotel buat makan malam hahahahahha.

Makanya, pas aku diajakin senior aku mau aja, pengen nyobain makanan Pekanbaru ceritanya.

Nginap di mana?

  1. The Premiere Hotel Pekanbaru

Well, sama panitia lokal kita diinapkan di The Premiere Hotel Pekanbaru dan acaranya juga akan berlangsung di salah satu meeting hall di hotel itu. Pas sampai, kita nggak check in karena kunci udah ada di panitia. Lalu, kita naik kan ke kamar kita di 1505. Masuk kamar, kami baru tau kalau tempat tidurnya nggak sesuai dengan apa yang kami pesan. Kami pesan twin bed, lah dapatnya malah double bed. Double bednya juga ukuran Queen. Jadi buat kita berdua rasanya agak kurang nyaman kalau harus seranjang. Aku langsung komunikasikan ke panitia, terus aku diminta turun ke resepsionis karena menurut panitia mereka udah memesan kamar dengan tempat tidur twin bed.

Long story short, setelah perdebatan alot antara aku, mbak resepsionis,  mas panitia, dan mas marketing hotel, kita nggak bisa dipindah ke kamar lain yang tempat tidurnya sesuai permintaan kita. Tapi dijanjikan besok kita bakal dipindah ke kamar twin bed karena besok sudah ada tamu yang check out. Kami tak punya pilihan, okelah. Namun, rencana tersebut akhirnya tidak terwujud karena…

Sekitar jam 04.50 subuh keesokan harinya, tau-tau pintu kamar kami digedor-gedor oleh housekeeping. Senior aku sedang mempersiapkan diri mau sholat subuh, jadi aku bukain pintu. Siapa yang sangka, petugas house keepingnya memberi tahu kami harus segera dievakuasi dari kamar karena hotelnya kebakaran. Aku aja belum sepenuhnya sadar dari tidur, eh dapat berita begitu. Itu asapnya udah kecium banget di luar kamar ternyata. Udah nggak mikir panjang, aku langsung ambil blazer bekas dipakai kemarin karena you know, aku pakai daster doang kan posisinya. Lalu pakai sepatu, ambil laptop, ambil tas ransel. Semua dilakukan sambil jantung rasanya mau copot. Senior aku masih sholat jadi gak mungkin juga aku tinggal sementara itu petugasnya udah desak-desak, “ayo bu, turun bu, harus segera”.

Begitu senior aku selesai sholat, kita langsung ngacir keluar kamar. Masih ada beberapa tamu lain yang baru keluar kamar kayak kita. Lalu kita turun ke lobby naik lift. In case of fire, I know harusnya kita ga boleh pakai lift kan, tapi gimana dong, kita di lantai 15 kan. Dan memang pada saat itu petugasnya masih memperbolehkan pakai lift. Itu di lift orang-orang bentukannya udah ngga tau kaya gimana deh, pada panik dan beneran pakai baju seada-adanya aja.

Sampai di lobby, kita baru diarahkan keluar ke halaman samping hotel melalui pintu darurat. Kita berkumpul sekitar sejam, saat petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api. Ada sekitar 5 unit kendaraan damkar yang terlihat olehku. Lumayan banyak juga yak.

img_3506
Suasana kamar ketika check in dan situasi saat insiden telah berhasil ditangani

Setelah api padam, para tamu dipersilahkan ke restoran untuk sarapan pagi. Petugas sibuk membagi-bagikan masker karena memang saat itu masih terasa banget bau asap. Terus hotelnya juga sigap sih, tamu-tamu yang ingin segera ke bandara juga disediakan pengangkutan.  Setelah sarapan dan kamar-kamar dinyatakan telah aman untuk dimasuki, baru deh kita naik, mandi dengan buru-buru, terus angkut barang karena panitia memutuskan mengevakuasi seluruh peserta dan melanjutkan rangkaian acara ke hotel yang lain. Untuk memindahkan peserta, hotel menyediakan 3 mobil. Good job. Selain itu, point plusnya lagi, bantalnya enak, ngga sakit pundak aku pas bangun.

2. The Zuri

Hotel yang menjadi hotel pengganti adalah The Zuri. Masih baru banget ini hotel, sampai pas kita masuk kamar masih tercium bau cat, hahaha. Fresh from the oven. Kalau aku melihat ini lebih ke tipe hotel yang business dan ringkas gitu, ngerti ngga maksudku? Hahahhaa. Semacam Fave gitu deh. Nah hotel ini ternyata masih satu grup sama The Premiere itu, jadi mungkin ini tipe budget hotelnya.

Kamarnya simpel, tapi aku seneng karena ada guling. Jarang loh aku ketemu hotel ada gulingnya, apa baru kali ini jangan-jangan. Cuma sayangnya pas aku bangun leherku terasa ngga enak, aku emang bermasalah banget sama bantal hotel. Jarang-jarang banget yang bisa cocok.

img_3507
Suasana kamar The Zuri dan restorannya

Restorannya sendiri konsepnya menarik, jauh dari kesan mewah malah lebih terkesan sederhana namun enak dipandang, iya aku tau, sederhana dan enak dipandang itu macam aku! Hahahahha. Makanannya juga sedap-sedap dan lumayan beragam. Standar nasi dan mie adalah, bubur ayam, terus roti dan western breakfast juga ada (sosis dan wedges gitu). Egg station ada. Terus ada mie pecel sayuran lengkap sama bakwannya! Kebetulan aku lagi pengen makan mie bumbu pecel pakai bakwan kayak dulu -so called gunting-gunting- yang suka ada di auditorium USU. Nikmaaat! Ada lupis juga, tapi aku ngga nyobain karena lagi gak pengen. Buah-buahan juga lumayanlah, jus-jusan ada tapi aku gak nyobain, jadi ngga tau apakah itu fresh juice atau jus kotak.

A1938DBC-B71E-4242-9951-C7A4F892AF51
Temboknya banyak gambar gini

Hotel ini khas millenial banget lah, di setiap lantai ada aja spot buat foto. Aku yang nggak terlalu doyan foto diri aja, begitu ditawarin foto sama petugas langsung nyerah bilang IYA MAU!

Makan di mana?

3883FC3C-0A02-45C3-91EF-3DA931DBB7C2

Sesampainya di Pekanbaru, kita dijemput sama tim Kanwil terus diajakin makan sore di RM Pak Abbas di dekat bandara itu. Kita pesan asam pedas ikan patin, ayam goreng, dan udang goreng yang besar-besar banget. Selain itu pendampingnya banyak lah, jengkol gulai, sayuran, sambel-sambel, dan lain-lain. Enak-enak semua, makanan khas melayu tapi ada sentuhan minangnya juga. Mantaplah! Point minusnya cuma pelayannya salah catat apa gimana minuman kita datangnya salah melulu, yang dipesan nggak datang-datang yang ngga dipesan datang terus menerus.

Terus, malam-malam kita makan duren di mana ya kok aku lupa, ini dia namanya, FIFA Durian, hahahhaa. Aku sih nggak makan duren ya, ngga terlalu suka. Tapi disitu ada ketan hangat ditaburi kelapa, haduhhh itu aku suka banget. Aku makan seporsi begitu aja. Orang lain makan pakai duren, hahahaha.

Terus besoknya aku dan seniorku juga sempat makan malam ikan bakar di Pak Ndut. Pak Ndut ini ada di Batam juga. Menu spesialnya ya ikan bakar sesuai namanya. Kita pesan dua ekor ikan, satu porsi kangkung terasi, satu telor dadar buat makan bertiga, bayar sekitar Rp360.000. Agak mahal sih menurut aku ya.

Terus aku sempat beli oleh-oleh pancake durian dan pisang kipas juga di Mega Rasa buat rumah. Canggih loh dia, pancakenya dikemas rapi terus dimasukin ke kardus steorofoam tebal yang tahan dingin. Kardusnya sendiri mesti beli ya Rp 10.000. Itu aku bawa ke kabin aman loh ngga bau sama sekali.

Too bad, durian Pekanbaru belum bisa dibawa sebagai oleh-oleh. Belum kaya durian Ucok di Medan. Tiap bawa Durian Ucok dari Medan aku masi selalu taro di bagasi, coba di kasi kotak steorofoam, bisa dibawa ke kabin juga kali ya, hehehehe.

Jadi begitu deh pengalaman ke Pekanbaru, ini pasti nggak gampang terlupakan karena ada peristiwa evakuasi subuh-subuh. Terus makanannya aku juga suka deh. Next time kalau ada kesempatan aku mau nyobain yang lain lagi.

Gangguan pada KRL

Sebagaimana diketahui oleh umum, aku setiap hari pergi dan pulang kantor naik KRL tercinta kebanggan bangsa, yang manalah udah tiketnya murah, cepat lagi sampainya, 30 menit aja.

Tapi ada saat-saatnya juga durasi perjalanan lebih panjang daripada 30 menit, misalnya karena gangguan sinyal ataupun gangguan-gangguan lainnya. Kalau ada gangguan itu, udah paling enak posisi lagi dapat tempat duduk sih.

Seperti contohnya hari ini.

Entah kenapa tadi pas sampai di Stasiun Palmerah, aku lihat jadwal keberangkatan keretanya kok beda. Normalnya kan yang lebih dulu berangkat tujuan Rangkas Bitung, lalu Maja, lalu Serpong, dan Parung Panjang. Nah tadi aku lihat yang datang terlebih dahulu adalah kereta tujuan Parung Panjang lalu kemudian Serpong. Wah wah wah, mesti ada sesuatu ini, yaudah aku memutuskan naik kereta ke arah Tanah Abang dulu lalu menunggu kereta yang sama balik arah lagi ke arah Serpong dan selanjutnya.

Keputusan yang tepat, karena ternyata bener ada gangguan sinyal, untung aja aku naik ke arah TA dulu jadi DAPAT TEMPAT DUDUK DEH, hahahahahha. Bayangin aja pukul 17.57 aku posisi di TA mulai berangkat, terus 18.21 masih di Kebayoran. Dengan durasi segitu biasa dua pertiga perjalanan sudah terlampaui. Berhenti di tiap-tiap stasiunnya lumayan lama dan ACnya nggak berfungsi normal kayanya. Panas banget aja gituuu! Tapi tetep bersyukur bisa duduk, kebayang aja kalo berdiri, udahlah panas, lama pula.

Kekgini pernah juga nih, jadi aku naik dari Palmerah kan, naik tujuan Serpong. Aku rada lupa sih apakah saat itu emang tujuan Serpong atau rutenya diubah sampai Serpong saja. Begitu sampai di Sudimara, aku dapet tempat duduk. Aku pikir lumayan nih sampai satu stop lagi duduk. Terus, kok keretanya nggak jalan-jalan? Udah 10 menit berhenti padahal. Terus tiba-tiba aja masuk kereta satu lagi, aku lihat juga tujuan Serpong. Laah kenapa ada dua kereta ke Serpong? Lalu nggak lama kita dapat pemberitahuan dari petugas kalau lagi ada gangguan sinyal di Stasiun Parung Panjang, sehingga semua kereta sampai Serpong saja. Gilaaaa.. Kita masih nunggu 20 menit lagi loh baru berangkat, jadi total berenti di Sudimara aja udah 30 menit. Untung dapat tempat duduk, jadi ga begitu pegel.

Tapi harap dicatat juga, kalau ada orang yang lebih membutuhkan, aku dengan senang hati mempersilahkan orang tersebut duduk kok. Nggak boleh egois laah. Jangan kayak kemaren, kasian amat gue liat ibu hamil naik dari Palmerah, dia minta tempat duduk ke orang yang duduk di kursi prioritas, ada yang bawa anak, ada pula yang nyenyak tidur. Alhasil dia ngga berhasil dapat duduk. Terus dia berpindah ke kursi yang buat umum, ngga ada juga yang mau kasih tempat. Akhirnya gue teriakin aja, “mas tolong mas kasi tempat duduk ke Ibu hamil!” Heran, pada hamil semua apa gimana ya orang-orang, egois banget ngga mau memberi kursi bagi yang lebih membutuhkan. Kereta penuh sesak padahal, kasian kan bumilnya kalau sampai kenapa-kenapa. Aku nggak bilang cowok yang harus kasih tempat duduk sih, semua orang statusnya sama seharusnya, tapi kemaren posisinya emang yang duduk pada cowok semua, gak ada satupun yang gentle kasihin kursinya. Sedih!

Gitu deh lika liku naik KRL, ada aja pengalaman baru tiap hari baik yang nyebelin ataupun yang nyenengin. Ya itu doang sih yang mau diceritain. Abisan bingung lagi gangguan gini, daripada bengong nulis nulis deh 😁.

See you!

Happy Birthday to Me

Sebenarnya, seiring dengan bertambahnya usia, aku kok ya rasanya makin malas nulis-nulis tentang ulang tahunku. Nah ini, entah kenapa aku pengen nulis deh tentang ulang tahun di tahun ini, yang mana juga sudah lewat sebulan lebih, karena sesuatu hal. Apa itu?

Begini ceritanya..

Dalam keluarga kecil kami, aku adalah orang yang pertama berulah tahun setiap tahunnya, lalu disusul oleh abang, kakak, dan papa. Nah, begitu akhir Januari tiba, anak-anak itu udah heboh banget deh menanti-nanti ulang tahun mama. Katanya mereka mau bikin surprise. Terus mereka juga request supaya aku dan si papa mengambil cuti pada hari H. Pada saat itu belum kami iyakan sih permintaannya. Tapi kok semakin hari semakin intens pembicaraan soal ultah ini. Mereka sering berbisik-bisik ketika mengerjakan their -so called- mama’s birthday project, takut ketauan mama katanya,hahahaha. Kemudian puncaknya adalah, suatu malam, beberapa hari menjelang ultah, si abang nanya “mama, boleh nggak kami ngga usah sekolah saat mama ultah? Papa mama juga cuti. Ya pleaseeee?” Heran dong kita ya, terus kita gali-gali nih, kenapa mereka mesti sampai nggak masuk sekolah. Ternyataaaa, ternyata sodara-sodara, mereka pengen merayakan ultah mama dalam artian perayaan meriah walaupun partisipannya cuma empat orang. Katanya, tahun-tahun lalu saat kita merayakan ultah setelah pulang kerja, selalu terburu-buru, nggak santai, abis tiup lilin disuruh tidur karena besoknya harus bangun cepat karena sekolah.

Mendengar alasan itu, akupun langsung terharu, dan merasa duh anak-anak ini manis sekali, aku yang ultah malah mereka yang sibuk memikirkan agar acara berlangsung santai dan relax. Akhirnya, akupun luluh, lalu aku bilang aku akan mengambil cuti dengan catatan mereka harus tetap sekolah! Perayaan akan dilakukan sepulang sekolah. Abisnya, cemen amat juga ya kalau anak-anak mesti bolos sekolah dengan alasan mau merayakan ultah mama di RUMAH, hahahahaha. Masih mending kalau di London gitu yaaak.

Ya udah, sejak hari itu mereka sibuk jadi EO. Mengatur nanti bagaimana acaranya, kuenya kue yang seperti apa, menu pestanya apa aja, dan walaupun di rumah, semua orang mesti pakai baju bagus katanya! Nah khusus untuk menu, mereka bahkan melakukan pengorbanan besar-besaran looo. Mereka rela seminggu sebelumnya minum air putih yang banyak, makan buah dan sayur, tidur yang cukup, tidak makan cokelat maupun biskuit dan permen sama sekali. Ya macam persiapan kayak mau ke BBW kemaren, hahahaha. Emang apa sih menunya kok persiapannya macam mau ikutan ASIAN GAMES? Menunya adalaaaah Alpukat kocok pakai es krim… IYAAAA, kalian ga salah baca kok, emang cuma itu menu party yang mereka rencanakan, hahahaha. Anak-anak segitu bertekad baja menjaga kesehatan demi bisa makan alpukat pakai es krim, something they’ve never tried before. Ya maklum, anak-anak mah kena dingin dikit langsung deh tu si batuk sama si pilek menghajar. Jadi sebelum minum es krim mesti badan dijaga banget jangan sampai setelah ultah anak-anak malah batpil. Dan itu mereka sendiri yang buat komitmennya. Gemes bangeet gak sih?

Fast forward to hari H, anak-anak bangun tidur dengan ceriaaaaa. Gampang banget deh bangunnya, nggak kayak hari-hari biasa sang mama sampai harus berteriak macam tarzan. Abis sarapan dan lain-lain, aku dan papa anterin anak-anak sekolah, abis itu kita ngopi-ngopi dulu di TUKU kedai kopi kesayangan warga BSD. Belom mandi padahal, tapi udah nongkrong aja gitu pagi-pagi di Tuku. Selanjutnya kita mampir ke kelurahan, mau ngecek apakah nama kita udah terdaftar di Daftar Pemilih Tetap. Ternyata belom terdaftar aja gituuu, sedih deh. Tapi kata mas-mas kelurahan, ntar pada saat pemilu, langsung ke TKP aja gapapa, bawa KTP dan KK. Kita boleh menggunakan hak pilih setelah jam 12. Yaudah, we’ll see, semoga beneran masih kebagian surat suara, secara kita warga resmi kan di situ. Abis itu kita pulang ke rumah, mandi, lalu jemput si abang di sekolahan. Lalu kita ke Teras Kota beli majalah dan buku buat anak-anak (padahal yang ultah siapaaaa) lalu makan siang. Setelah makan, papa jemput kakak di sekolah lagi, untung sekolahannya deket dari situ jadi bisalah bolak balik ga makan waktu lama. Setelah berkumpul berempat, kita ke BSD Plasa mau nonton The Lego Movie. Anak-anak masih pakai seragam udah diangkut ke bioskop, orang tua macam apah, haahahhahaha… Setelah itu beli kue ultah di Holland Bakery lalu balik ke rumah.

Everybody was so happy until I found that…..

Itu alpukat yang dibeli hari Sabtu sebelumnya ternyata belum matang!!!! Nah loo! Padahal udah disimpan di dalam wadah beras, kok ya belum mateng. Mana hujan deras pula di luar. Saat itu udah jam 5 sore, mau ke pasar pasti udah tutup, ke Superindo belom tentu ada jual yang matang. Haduduh, nangis aja dong si abang begitu tahu menu idamannya tidak bisa terwujud. Nangis bukan nangis teriak gitu, malah nangisnya diem tapi terisak-isak banget. Duh sedih banget deh pokoknya. Akhirnya aku minta papa untuk beli alpukat mateng di tukang jus, hahahaha.. Untung dapet, sehingga gak lama setelah itu menunya bisa hadir di meja berdampingan dengan kue ultah.

Begitulah, akhirnya acarapun bisa dimulai, habis berdoa dan nyanyi-nyanyi, anak-anak ngasih kado berupa kartu ucapan selamat ulang tahun, yang digambar dan dihias sendiri oleh mereka. Ada juga pernak-pernik lain buatan mereka sendiri yang fungsinya untuk memeriahkan ultah mama. Terharu banget akutu. Lalu mereka tanya harapan aku apa, dan aku disuruh tulis di kartu yang mereka buat. Sambil nulis, sambil berlinang air mata. Gak nyangka aja mereka mikirin semua ini, tanpa campur tangan si papa loh. This gonna be the most memorable birthday celebration ever for me. Senang. senang, senaaaaanng banget deh pokoknya.

Terus mereka request, “mama boleh ngga setiap ada yang ulang tahun kita begini? Papa mama cuti?” Langsung aku bilang, iya nak boleeeeh… Siapa yang nggak mau merayakan ulang tahun dengan cara seperti ini yang walaupun sederhana tapi sarat makna.

Trims Jesus Christ, trims papa, trims Kakak, trims abang, I love you so much! Terus aku juga mau berterima kasih buat papi mami, adek-adek, sahabat-sahabat yang ingat ultah dan mendoakan aku, may your all kindness be returned to you.

So, to end my story, I would like to say “Happy 34th birthday to me”…