Apa kabar…

Halo, udah lama banget nih aku nggak menulis di blog, sampai debuan nih blognya. *sapu-sapu debu*

Waktu awal-awal pandemi Maret 2020, aku bertanya, pandemi ini kira-kira kapan kelarnya ya..? Terus baca sana sini dan berkesimpulan ini kayaknya 2021 deh baru kelar. KAYAKNYA loh.

Setelah sekarang, Juli 2021, aku mempertanyakan hal yang sama lagi, kapan ya kelarnya? Tapi kali ngga berani mengira-ngira kapan kelar. Padahal aku itu orangnya sangat suka bermimpi loh, tapi memimpikan bebas pandemi di Indonesia aku justru ga berani, hahahahaha. Mudah-mudahan aku salah.

Saat menulis blog ini, 17 Juli 2021, puji syukur aku masih dalam keadaan sehat, terus juga kantorku juga baik banget bolehin unit kerja tertentu untuk full WFH. WFH secara penuh untuk unit kerja non kritikal dimulai 12 Juli deh kalo ngga salah, dan akan berlanjut sampai 23 Juli. Sebelumnya, kita masih masuk dengan proporsi harian 75% karyawan WFH, 25% karyawan WFO. Sebelumnya lagi, sempat udah boleh masuk dengan proporsi 50% WFH dan 50% WFO. Sejak kantor mulai full WFH, semua orang di rumahku praktis gak kemana-mana, karena selama ini yang terkadang masuk kantor itu tinggal aku doang. Suami udah full WFH dari mulai PPKM diberlakukan, dan adikku full WFHnya malah udah mulai tahun lalu. Dengan bersama-sama di rumah aja, jadi lebih merasa secure aja, ngga terpapar sama keramaian.

Sebelum full WFH dimulai (tapi PPKM darurat sudah diberlakukan oleh pemerintah), dalam perjalanan aku sering lihat orang masih ramai-ramai berkumpul dan beraktivitas tanpa mengenakan masker, makan minum beramai-ramai juga. Dulu, dulu banget ya, aku pernah jadi one of those yang nyinyir banget sama orang-orang yang ngga tertib di rumah aja dan/atau ngga pakai masker dengan benar. Nyinyirnya selevel sama tajamnya komen netijen yang maha benar. Sekarang, aku udah berpikirnya lebih ke arah: well, ada orang yang memang mau nggak mau harus keluar rumah untuk bekerja, dan mungkin mereka ngga bisa afford untuk beli masker yang proper jadi ngga bisa double mask seperti anjuran pemerintah. Dan terhadap kondisi itu, aku belum bisa juga menyumbang apa-apa, belum bisa berkontribusi aktif untuk bikin gerakan tertentu to help those people, belum bisa juga memberikan solusi atas permasalahan yang ada di depan mata kita.

So then I choose to be good, the least I can do. Aku coba sekuat mungkin untuk ngga nyinyir, kalau aku bisanya cuma kasih tips lebihan aja sama driver yang nganterin pesanan makanan/belanjaan, ya itu aku coba kerjakan dengan konsisten. Malam-malam aku doain supaya semua orang yang sedang sakit agar cepat sembuh, semua orang yang terpaksa harus ke luar karena ngga mungkin bekerja di rumah agar tetap sehat, berdoa agar orang yang kondisi finansialnya terganggu karena pandemi ini agar bisa bertahan lebih lama. Aku juga doakan supaya semua orang yang mempunyai usaha agar usahanya berjalan baik sehingga tidak perlu PHK. Aku doain para nakes juga biar tetap setrong. Aku bahkan bilang sama suamiku, “ini para pedagang kaki lima udah pada vaksin belum ya, kalau perlu puskesmas atau kelurahan bikin deh vaksin keliling, datengin tuh satu-satu pedangan di sepanjang jalan, tawarkan vaksin. Jadi dia ngga mesti harus tutup lapak demi antri vaksin ke puskesmas”.

Aku paham banget, ada juga beberapa temen yang berpendapat “kalau orang tetap berkeliaran di luar, tetap ada kerumunan, kapan pandeminya mau selesai?”. Aku hormati pendapatnya, tapi kalau dari aku pribadi ya kembali ke poin pada dua paragraf di atas. All I can do is trying to be good. Pakai azas praduga tak bersalah ajalah. Walaupun mungkin ada segelintir yang emang berkeliaran karena ga percaya Covid19, ya sudah anggap aja dia memang keluar rumah karena harus bekerja dan tidak punya kemampuan membeli masker. Aku ga bisa berpikir lebih dari itu, karena bagaimanapun penyelesaian kondisi seperti ini ya butuh sistem kan. Yang bisa mengerjakan hal-hal tersistem siapa? Ya pemerintah.

Hmm terus mau cerita apa lagi ya. Oh ya, jadi aku tu sempat sekitar seminggu mengalami susah tidur. Jadi kalau udah malam sekitar jam 10, aku udah di tempat tidur tapi sampai jam 3 pagi kadang belum tidur. Abis itu bisa ketiduran tapi karena harus bekerja lagi, nanti jam 7 udah kebangun. Padahal biasanya aku kan harus tidur cukup 8 jam sehari hahahaha. Ini bener-bener gabisa. Penyebabnya apalagi kalau bukan overthinking. Ada aja kabar menyedihkan. Tapi, udah 3 malam ini, sebelum tidur aku bilang ke pikiranku sendiri “aku capek banget, pengen tidur nyenyak, nih!”. Eh beneran langsung ketiduran loh, nyenyak pula hahahaha. Emang harus dibilangin dengan galak nih pikiran biar nurut.

Di luar itu, aku mau cerita apa lagi ya.. Oh kemaren bulan Juni aku ikut pelatihan Melukis Slide dengan Hati (MSDH) dari kantor. Ini berguna banget lo buat kalian-kalian yang pengen meningkatkan kualitas pembuatan slide di powerpoint (ppt). Sebagai orang yang jarang banget disuruh bikin slide sama bos *saking boringnya penampakan hasil pptku*, pelatihan ini bermanfaat banget buat aku pribadi karena aku jadi tau tips and trick bikin ppt yang lebih powerfull. Tapi gitu, aku kan orangnya mudah jumawa ya, pas udah tau tips and tricknya, sekarang kalo liat ppt kurang menarik itu jadi pengen ngatain deh hahahaha. Tapi langsung inget bahwa aku harus be good, udah deh ngga jadi ngatain.

Di bulan Juli, aku disuruh ikut pelatihan lagi, menulis policy brief. Policy brief itu semacam tulisan ilmiah tapi penulisannya lebih umum agar mudah dicerna oleh pengambil keputusan. Nah yang ini rada bikin mikir nih, ada tugasnya pula kan menulis policy brief, dahlah begadang deh aku ngerjain PR. Pas PRnya beres, setor ke mentornya, abis itu dikasih komentar perbaikan. So yes, kita revisian dulu gaes macam anak skripsian S1 ahahaha. Konteks: pas aku kuliah master, saat tugas akhir disubmit, langsung dikasih final mark. Kalau di bawah passing grade, ya ulangi dari awal, ngga pakai revisian segala, hence the S1 term yaak. Abis revisi sekali, untungnya mentor langsung kasih nilai akhir, pas-pasan tapi yg penting lulus.

Tau dari mana bahwa nilaiku pas-pasan. Okeh, jadi setelah kita semua diberi nilai, ada sesi diskusi dengan mentor. Di awal diskusi, mentornya mereview dulu tulisan para mentee nya. Satu mentor ini ada 5 mentee. Tulisan 4 mentee yang lain direviewnya panjang dan diselipin pujian, wah ini bagus banget nih, idenya oke, bla bla bla. Giliran aku singkat aja dan ngga ada pujian huahhahahahhahha. Tadinya mau baper kan, tapi aku ingat lagi, lah katanya mau be good, termasuklah itu ngga boleh baper. Yaudahla ngga jadi baper, dibawa happy aja. Apalagi ternyata aku menang kuis Kahoot, peringkat ketiga, jadi dapat hadiah buku hahahahhaha. Aku anaknya gitu, menang Kahoot doang hepinya kek dapat durian runtuh.

Well akhirnya tibalah kita di ujung tulisan. Ternyata nulis gini doang bisa ngabisin sejam lebih loh ya. Lumayan deh. Jadi tadinya aku bingung mau ngapain, mau lanjutin K-Series di Netflix, laptop sama PC yang ada netflixnya occupied sama anak, masing-masing nonton film pilihan sendiri. Mau pakai PC adekku, dia juga nonton. Mau masak, makanan masih ada. Mau bikin kue, butter yg dipesan online baru besok sampainya. mau ngemil, eh cemilannya udah habis dimakan sebelum bengong, hahahha. Mau main HP, eh HPnya lowbat. Mau baca buku, lagi ngga minat yang berat (tadinya mau lanjutin HOmo Deus, tapi ya gitu deh). I’m waiting for Rapijali 2 by the way, lagi pre order, uhuyyy! Jadi gitu, ada satu laptop nganggur tapi gabisa netflix, eh malah tergoda nulis di WP. Mayanlah yaaaaa…

Siapapun yang baca ini, aku berdoa semoga selalu dalam keadaan sehat yaaa…

XoXo

Shien

Akhirnya vaksin (part 1)

Sabtu, 20 Maret 2021

Akhirnya kantorku kebagian giliran divaksin, thank God. Sekitar 1700 karyawan se DKI dijadwalkan vaksin dosis pertama dalam 2 hari yaitu 20 Maret 2021 dan 21 Maret 2021.

Sehari sebelum vaksin, peserta harus mendaftar antrian vaksin dan mengunduh lalu mencetak form skrining dan form kontrol. Aku kebagian vaksin di hari pertama, sesi pagi.

Sebelum vaksin, tidak ada imbauan khusus untuk persiapan sih, cuma tetap aja ya aku nanya-nanya ke adik-adikku yang sudah divaksin kira-kira apa yang harus dipersiapkan menjelang vaksin. Menurut mereka sih, yang paling penting, tidur aja yang cukup pada malam sebelum vaksin, kalau kurang tidur dikuatirkan akan mempengaruhi tensi (menjadi terlalu rendah atau terlalu tinggi).

Jadi apa yang disarankan, itulah yang kulakukan. Biasanya tidur di atas jam 11 malam, dua hari sebelum vaksin aku naik ke tempat tidur jam 10 malam. Tapi, siapa sangka, ternyata semakin mencoba untuk tidur, malah jadi sulit tidur, huhuhu.

Pagi pas hari H, aku bangun jam 6 pagi, pesan sarapan, makan, terus siap-siap berangkat ke halte. Nanti dari halte, aku lanjut naik bus kantor.

Sesampainya di lokasi, ruang tunggunya lumayan penuh, hanya tersisa kursi kosong di baris paling belakang. Later on I know bahwa ternyata sistematika antriannya memang baris-per baris. Satu baris terdiri dari sembilan peserta yang antar tempat duduknya diberi jarak. Ketika baris paling depan disuruh masuk ke ruang skrining, maka peserta di baris belakangnya akan mengisi tempat kosong tersebut, dan seterusnya. Jadi setiap beberapa menit, akan ada perpindahan duduk ke baris depan. Jadi nggak heran kalau yang kosong itu ya sudah pasti baris paling belakang.

Sambil nunggu, aku baca buku Sapiens yang dibeli dari tahun 2019 tapi ngga juga kelar dibaca padahal tinggal bab terakhir doang nih. Terus ternyata di baris belakang ada beberapa temanku, terus say hello dan “hah, buku apaan tuh? Rajin amat baca buku tebal-tebal?”. Sounds so nerd ngga si? Mereka nggak tau aja, aku sebenarnya rada kikuk juga baca buku di keramaian antrian gitu, tapi aku kan lagi puasa sosmed kan, game ngga punya, youtube nggak terlalu doyan, baca e-perpus di handphone melelahkan mata, terus udah gitu masih ditambah pula dengan handphoneku yang batrenya udah mulai tidak prima. Sambil nunggu terus mainan handphone itu hampir dapat dipastikan saat selesai vaksin handphonenya sudah dalam kondisi mati karena habis baterai hahahaha. Mau bawa buku yang tipis, rasanya tanggung juga, mending yang ini diselesaikan, ya ngga si? Dan akhirnya selesai juga sih bukunya. Lumayan kan kelarin satu buku.

Proses dari awal tiba dan duduk dalam antrian sampai pada proses penyuntikan vaksin memakan waktu kurang lebih 75 menit lah. Sebelum masuk bilik penyuntikan, petugas mengecek tensi dan suhu tubuh. Untunglah tensiku normal aja jadi aman, bisa masuk ke bilik untuk divaksin. Oleh dokternya, vaksin disuntikkan pada lengan kiri sebelah atas. Sakit atau nggak sih relatif ya, toleransiku terhadap sakit suntikan lumayan tinggi jadi aman aja. Tapi menurut adek-adekku, suakiit buanget (agar terdengar lebay 😂)

Setelah disuntik, kita tidak boleh langsung pulang melainkan harus menunggu dulu sekitar 30 menit lagi di ruang observasi. Tujuannya untuk melihat apakah ada dampak vaksin bagi penerima. Karena itu, memang disediakan ruang mini ICU juga untuk menampung peserta yang setelah divaksin merasakan gejala tidak nyaman untuk dapat ditindaklanjuti oleh tim medis.

Setelah 30 menit berada dalam ruang observasi, akhirnya aku diperbolehkan keluar menuju gate check out. Horeeeee…

Selesai checkout aku buru-buru pulang ke rumah, mandi, makan siang lalu bablas tidur sampai sore. Saat bangun, terasa sedikit lemas dan perut lapar. Kondisi ngantuk, lemas, dan lapar ini terjadi sampai 3 hari setelah vaksin. Entah ini sugesti aja atau memang normal, aku ngga tau juga ya. Idealnya kalau merasa berbeda kita harus informasikan kepada petugas sih, untuk dicatat dan mungkin digunakan sebagai bahan penelitian lanjutan untuk proses perbaikan dan penyempurnaan (oke, bagian ini asumsi aku aja).

Tinggal menunggu dosis ke dua nih, semoga nanti berjalan lancar juga. Nanti aku cerita lagi deh tentang dosis ke dua.

Semoga pemberian vaksin juga cepat menyebar ke semua masyarakat termasuk anak-anak sekolah di seluruh Indonesia, agar kita semua kebal sehingga Covid 19 cepat musnah. Anakku di rumah udah ga sabaran mau divaksin juga soalnya, tiap hari anak berdua itu membahas kira-kira kapan anak-anak dinyatakan boleh menerima vaksin, hahahaha. Soon ya nak, we hope so.

Stay safe and healthy people..

Epic Fail

Pernahkah kita berada dalam kondisi sudah merencanakan sesuatu dengan sedemikian detail dan mantap, sudah menjalankan sebagian besar proses pengerjaannya dengan hasil yang sepertinya sudah oke banget, lalu tau-tau pas endingnya eh malah gagal total?

Well, setidaknya itu yang baru aku alami beberapa hari yang lalu, saat aku ehm masak cumi saos padang. Iya, cumi saos padangnya gagal total. Hahahahaha. Begini ceritanya…

Hari Rabu pagi, kebetulan jadwal aku WFH jadi dari bangun pagi lumayanlah punya waktu beberapa jam sebelum mulai morning briefing jam 08.15. Karena itu aku memutuskan pergi ke Indomaret dekat rumah buat beli roti untuk sarapan. Rencananya nih mau bikin roti panggang sama telur orak-arik buat sarapan bocah. Dalam perjalanan pulang, ketemu sama tukang ikan segar langganan tetangga. Terus abang tukang ikannya menawarkan, mau lihat-lihat dulu ngga? Ya udah, lihat aja dulu kan, eh ternyata naksir sama setengah kilo cumi yang masih seger banget plus montok. Bungkus deh.

Pas melanjutkan perjalanan pulang, mikir kan, ini cumi enaknya dimasak apa ya? Bulan lalu udah masak cumi hitam (cumi tinta), hari ini masak mau masak itu lagi? Ya udah, mentok-mentok digoreng mentega aja paling, atau dibuat cumi goreng tepung. Hehehe

Sampai di rumah, cuminya aku cuci bersih, lalu dilumuri jeruk nipis dan garam, terus masukin kulkas deh, nanti pas jam makan siang baru di masak. Lalu bikin sarapan anak, setelahnya beres-beres mau kerja.

Pas udah mendekati jam makan siang, kerjaan udah mulai slow down, aku iseng-iseng deh nyari resep cumi. Ketemulah recep cumi saos padang tanpa saos botolan. Dalam hati, “whoaa, keren amat ini, berarti pakai bumbu alami semua dong”. Cek resepnya, bahannya lengkap semua, estimasi proses masaknya juga cepat, langsung eksekusi deh siapin bumbu. Pas bumbunya udah beres disiapkan, cuminya aku cuci sekali lagi, sambil dipencet-pecet biar kalau ada tinta masih ketinggalan segera pecah.

Karena ini cumi ya, proses masaknya memang seharusnya tidak lama, maka cumi ini akan dimasukkan pada sesi akhir masak. Jadi kira-kira 3/4 durasi awal memasak, kita hanya masak bumbu saja sampai wangi dan tidak langu. Kemudian aku masukkan cumi terus aku aduk-aduk. So far so good. Sebelum cumi masuk, aku cicip bumbunya udah mama mia lezatoz banget hahahaah. Bikin pengen cepat-cepat makan nasi pakai bumbunya deh.

Pas masak, aku nggak merhatiin bahwa bagian hitam di sebelah kiri wajan itu bakal menjadi pengacau menu. Kirain itu bagian apanya cumi gitu deh. Jadi ya aku aduk-aduk aja lagi cuminya dengan semangat penuh. Sampai ngga berapa lama, KOK CUMINYA JADI ITAM YAAAAAA….

Hahahaha, pupus sudah keinginan makan cumi saos padang tanpa saos botolan karena cumi saos padangnya berubah jadi cumi tinta hitam. Dari segi rasa sih ya tetap enak-enak aja kata anak-anak dan orang rumah (aku lagi ngga makan cumi soalnya), karena tintanya ngga memberi rasa apapun sebetulnya. Syukurlah, walau berubah nama, akhirnya cumi ini tetap habis juga dilahap orang rumah.

Seumur-umur masak, ngga pernah sampai gagalnya segini banget hahahahha. QCnya gimana nih, perlu ditingkatkan lagi di masa yang akan datang.

Jadi begitulah ceritanya…

Cheers,

Shien

Ngga ada judul

Jadi, memasuki masa raya Paskah, seperti beberapa tahun terakhir, salah satu puasa yang aku jalankan adalah puasa sosmed. Mulainya Rabu tanggal 17 Februari lalu. Semua akun sosmed aku uninstall dari hape, ya ga banyak juga si, cuma IG dan Twitter, hahahaha. Oh ya, sama facebook, tapi ini aku ga download apps, cuma liat di website aja. Enak banget loh puasa sosmed itu, jadi bikin kepala enteng ngga overthinking, ngga negative thinking juga, pokoknya macam balik ke jaman dulu deh sebelum serbuan sosmed melanda.

Karena minggu adalah hari libur puasa, maka kadang aku ngecek sosmed juga lah di hari itu. Balesin komen, balesin DM, ngomentarin status orang hahahaha. Ada aja suka bikin kaget-kaget balik ke sosmed lagi (padahal baru ditinggal 4 hari, astagaa…). Kemaren aku dapat basian kehebohan di Twitter tentang seorang mbak vokalis yang diduga selingkuh sama mas pemain musik di band mereka, yang endingnya mas pemain musik digugat cerai sama istrinya yang sudah memberinya dua anak. Disinyalir, cailaaa bahasanya wkwkkwkw, mas pemain musik dan mbak vokalis udah menjalin hubungan sekitar 2 tahun.

Aku ngga mau ngomongin soal mba vokalisnya ya.

Saat baca-baca replies orang-orang di Twitter (yang seringkali memberi informasi lebih berguna daripada beritanya sendiri hahahaha), aku terhenti pada komentar netijen yang mengatakan bahwa mbak istri sebetulnya sudah tau lama soal ini, sudah membahasnya, dan dulunya sudah pernah memaafkan, namun ternyata terjadi lagi.

Dalam hati aku merasa, ini mbak istri kuat sekali ya, besar sekali cintanya terhadap suami sehingga mampu memaafkan mas pemain band atas beberapa kali kesalahan yang sama (macam lagu Kerispatih, anak jaman sekarang masih kenal Kerispatih ngga si?) . Ini terlepas dari masalah ketergantungan finansial ya, karena dalam hal ini, sependek informasi yang aku dapat (again dari replies netijen) mbak istrilah yang justru lebih dahulu telah berperan sebagai penopang perekonomian keluarga. Pertanyaan selanjutnya, kok bisa-bisanya ngga punya rasa benci, rasa dendam, atau rasa murka terhadap suaminya ya.. Tentu saja siapapun tau bahwa jawabannya merujuk ke poin pertama di atas sih, karena mbak istri punya rasa cinta yang luar biasa besarnya pada mas suami. Tapi me just being me, tetap aja aku ngga habis pikir. Well, pada akhirnya memang menyerah sih, tapi sebelumnya itu loh..

Overthinking berikutnya tentu saja, what if I face that situation? Entahlah, ga tau juga. Mungkin aja aku juga bakalan bertahan karena aku punya anak. Tapi, bertahan kan bukan berarti memaafkan toh? Aku tu masih penasaran dibagian memaafkan itu loh. Mungkin juga, aku bakalan langsung bilang I’m sorry goodbye tanpa perlu mendengar permohonan maaf, klarifikasi, saran-saran untuk rekonsiliasi dll lah. Just say goodbye aja, end of story. Karena, seorang hamba aja ngga bisa mengabdi pada dua tuan ya kan, gimana ceritanya seorang suami bisa mengabdi pada dua cinta? Hah? Hah? Coba jelaskan! Jadi emosi aku kaaan. Terus jangan juga dibenarkan dengan alasan “yee, namanya juga manusia, bisa aja salah”. Ya salahnya milih-milih juga kali, salah nempatin handuk basah di tempat tidur aja bisa bikin ribut, salah ngomong aja bisa bikin rumah tangga berantakan, apalagi salah menempatkan cinta alias selingkuh?

Jadi nyeselkan balik sosmed minggu kemaren, jadi mikirin hal-hal lain deh… Padahal kita pikirin juga ngga nolong apa-apa buat mas dan mbak nya, huhuhuhu. Hope mbak istri recover soon dari kesedihan hatinya.

Ya gituaja sih tulisan tanpa tujuan dan kesimpulanku kali ini, as always, nulis doang ngga ada manfaatnya juga hahahhaha.

Give away

Well, yang follow aku di sosmed pasti udah hapal mati sama satu kebiasaanku yang suka banget ikut give away, hahahaha…

Dibilang give away hunter juga menurutku nggak sih, karena ngga semua give away aku ikutin. Ya sesuai mood aja sih. Paling aku ngeliat-liat aja probabilitanya seberapa besar. Kalau ada satu post give away, yang emang hadiahnya mahal si, yang menang cuma satu tapi yang ikutan udah ribuan, aku biasa ngga ikut. Tapi kadang, ada yang bikin giveaway dengan hadiah yang ngga terlalu besar si sebetulnya, cuma kita disuruh berpendapat, nah kalau emang topiknya aku relate, aku mau ikutan juga walaupun yang ikutan juga udah banyak. Terus aku juga mempertimbangkan nih syarat-syaratnya, kan kadang ada yang suka minta kita tag 5 teman, tag 3 teman, tag sebanyak-banyaknya. Nah aku tu biasa mikir-mikir banget kalau syaratnya disuruh ngetag lebih dari 5 atau sebanyak-banyaknya. Kenapa? Ya takut ganggu orang lain aja sih. Jadi biasa aku ngetag saudara atau teman yang bener-bener dekat banget.

Kenapa suka ikut give away? Ya karena “why not?” aja sih, hahahaha.. Kata suamiku, darah give away mengalir deras. Ya biarin lah, I do it just for fun really. Menang terus-terusan ngga? Ya ngga mungkinlah lah ya.. Menang ga menang GA sih aku ngga baper laah, tapi kalau menang ya senang. Masa ngga senang sih, yekan. So far sih hadiah menang GA paling besar aku dapat itu adalah 4 tiket masuk Legoland plus 4 tiket PP Batam-Johor Bahru. Cuma saat itu sampai last minutes masa berlaku habis, aku ngga bisa pergi jadi aku jual murah banget lah itu semuanya ke teman aku yang kebenaran lagi perlu.

Nah, aku sekarang mau cerita..

Akhir Januari tanggal 31 itu aku dapat notif di DM menang GA dan berhak mendapat paket beberapa jenis makanan vegan siap santap gitu, how can I not be happy dong.. Seneng banget. Cumaaa ternyata, pas ud konfirmasi alamat, eh ternyata kurir mereka ngga nganter sampai BSD, jadi beneran nganternya di seputaran Jakarta aja. Ya iya juga sih, namanya juga makan udah tinggal siap santap ya, kalo kelamaan di jalan takutnya pas nyampe malah udah kurang enak. Terus aku yang, “oh iya kak, gapapa kok.. Belum rejeki kali ya.. Next time aku ikutan lagi gapapa tapi ya”, tetep ya bund, minta ijin biar bisa ikutan GA lagi hahahaha… Udah, se-ringan itu aja jawabnya. No protes protes club kita sih.

Terus, tadi pagi, pas ke pasar, iseng-iseng ngecek sosmed, eh kok banyak notif ya. Ternyata menang GA lagi gaes.. Puji Tuhan, minggu lalu batal eh minggu ini diberi ganti.. Kali ini hadiahnya parfum, jadi bisa diantar ke alamat mana aja. Hihihi so happy.

Anggap lah itu early birthday gift yaaaa….

Adaptasi…

Halo semuanya…

Gak terasa udah pertengahan Agustus aja ya, duh masa iya sih tahun ini akan selesai empat setengah bulan lagi? Kali ini aku mau nulis apa ya, sampai bingung mau nulis apa, saking udah lamanya ngga nulis-nulis. Oh ya, aku cerita tentang apa yang aku lakukan selama Maret-Agustus aja kali ya. Banyak yang berubah banget soalnya, hahaha.

Kasus pertama Covid-19 di Indonesia kan di awal Maret ya, tapi belum heboh banget. Ya heboh, tapi seingatku kami masih beraktivitas seperti biasa aja. Anak-anak masih sekolah dan les, aku masih kerja, gereja masih berjalan, bahkan minggu ke dua Maret kami masih mengantarkan anak-anak ujian les musiknya di Gedung Yamaha Pusat naik KRL. Cuma emang udah mulai waspada, masker selalu pakai dan bawa tissue basah buat lap tangan saat diperlukan.

Masuk minggu ke 3, semua kegiatan pembelajaran anak-anak kayaknya sudah dihentikan mulai dari sekolah, kursus, dan sekolah minggu. Kantorku sendiri di pertengahan minggu ke tiga baru memutuskan untuk menjalankan sistem WFH bagi karyawannya. Hari terakhir sebelum WFH, aku dan si papa belanja dulu keperluan sebulan biar ngga keluar-keluar rumah gitu lah. Beli beras, deterjen, sabun mandi, shampoo, minyak goreng, dan lain-lain gitu lah. Biasanya kan aku beli kaya gitu mingguan aja ya, cuma ini beli buat stock sebulan, ngga lebih karena ngga bermaksud nimbun juga, maklum cynn, rumah aku kan segitu-gitu aja ya, mau taro di mana tu barang-barang kalo beli terlalu banyak?

Adaptasinya gimana? Wah, cukup bikin aku stress sih ya. Suasananya lumayan horor kalau menurut aku saat itu. Walaupun minimal ada beras dan telor di rumah, tetap lah ya, kita mikir duh gimana nih caranya beli protein hewani, buah, dan sayur? Masa iya sebulan makan beras dan telor ya kan.. Untunglah saat-saat itu ada-ada aja informasi dari grup WA gereja dan dari grup WA tetangga yang berisi informasi tukang sayur yang bisa dititipin belanjaan sekalian banyak buat seminggu terus nanti dia antar ke rumah. Aman laah urusan makanan rumah. Walaupun setiap minggu jadinya agak bingung, mau pesan apa lagi ya ke tukang sayur. Perasaan yang dipesan itu-itu melulu deh, hahahaha. Manusia gak ada puasnya.

Kemudian, mari kita masuk soal pembelajaran anak. Jadi, di awal-awal anak-anak SFH itu (kadang aku geli dengar SFH, macam inisial nama akuuu), duh bok, rempong amat. Udah kesepakatan kan bahwa PR anak-anak dikumpul jam 9 malam. Ealah, nanti jam 3 sore gurunya udah posting daftar nama-nama anak yang sudah mengumpul tugas di grup WA. Ya paniklah saya kan, secara cuma nama anakku yang belum ada di situ. Belum lagi kadang ya orang tua lain juga menurut aku terlalu berlebihan, pada protes kenapa tugasnya sedikit sekali, anak-anak jadi punya waktu luang terlalu lama, terus segala nanya gimana ujian harian, ujian tengah semester, ujian akhir, dll. Aku yang biasanya nggak pernah berkomentar di grup, akhirnya ngga tahan juga dan akhirnya protes keras tuh di grup WA. Wkwkwwkw. Aku bilang, kalo kesepakatan submit tugas jam 9 malam, tolong bu guru jangan posting siswa yang belum kumpul tugas jam 3. That somehow makes me crazy! Ya bok, namanya awal-awal aku WFH, seharian bisa google meet, rapat ngga abis-abis! Sekalinya kelar rapat, eh baca WA tinggal anakku yang belum kumpul tugas (direminder pula!!) apa ngga emosi tingkat dewa? Terus aku juga protes tuh sama emak-emak lain, aku bilang ya kalau anaknya emang udah bikin tugas ya biarin aja sih main, ngga usah minta-minta tugas tambahan sama guru. Kalau mau, ya kasih sendiri aja tugas tambahan ke anaknya masing-masing. Eh terus aku diserang bok sama ibu-ibu laen wkkwkwkwkwkw. Kocak banget! Semua pada bilang, kami nggak mau anak-anak kebanyakan main, ngga mau anak ketinggalan kurikulum, ngga mau anak-anak terlalu santai takutnya tar kebiasaan, dll, dsb, etc. Terus aku jawabin lagi, eh ayolah sama-sama jujur, pasti kita sebagai orang tua aja, yang udah paham kenapa kita bisa berada pada kondisi seperti ini, pastilah tetap rada terganggulah pikirannya mengenai Covid19 ini, pasti banyak kekhawatiran. Ya kalau bisa jangan sampai anak-anak juga ikutan tertekan, biarinlah mereka lebih banyak main di rumah, membaca, menggambar, melakukan hobinya yang lain. Emang mau ngejar apaan sih? Orang UN aja sama Mas Menteri ditiadakan, kok ya anak kelas 1 SD ribet bener hidupnya seharian dituntut ngerjain tugas biar ngga kebanyakan main dan agar mempersiapkan diri untuk ujian naik kelas? Lah selama ini ada ujian naik kelas juga semuanya naik juga kok, nggak ada yang tinggal kelas. Kecuali nih, beneran ada setengah jumlah anak yang ngga bisa naik kelas karena ngga lulus ujian, ya monggo tetap laksanakan ujian. Aku juga bilang, kalau perlu itu anak-anak dikasih tugas life skill aja malah, suruh bantuin ortu cuci piringlah, masaklah, rapiin rumahlah, ceritain tentang buku favoritnya kek, cerita tentang cita-citanya kek, cerita tentang apa yang dipikirkannya tentang pandemi ini kek, apa ajalah yang santai tapi bermanfaat! Abis itu grup WAnya sunyi senyap sis wkwkkwkwkwkw, sampe kata si papa, mereka udah punya grup baru kali yang ngga ada mamanya! Tega amat nih suami, mulutnya kok bisa setajam silet wkwkwkkww. Tapi hasilnya, anak-anak akhirnya naik kelas tanpa perlu adanya ujian akhir. Jadi diambil nilainya dari tugas sehari-hari aja. Tugas-tugasnya juga akhirnya lebih banyak ke praktek di rumah gitulah, tugas dari buku pelajaran sih tetap ada kok, tapi porsinya nggak sebanyak awal-awal SFH dulu. Aku nggak bilang bahwa semua itu karena aku ngamuk-ngamuk ya, cuma aku merasa bersyukur aja menyuarakan pendapatku, sehingga setidaknya mungkin jadi pertimbangan bagi guru-guru. Maafkan aku ya para guru-guru anakku, sungguh aku menghargai upaya kalian dan salut sama kalian kok, aku tau banget pasti sulit ya mengakomodasi keinginan ortu siswa yang beda-beda.

Terus adaptasi apa lagi ya, oh iya, jam tidurku juga jadi kacau. Entah kenapa, aku itu jadi susah banget tidur. Jadi dari mid Maret s.d April ya kayaknya, aku itu selalu tidur di atas jam 12 malam. Jam 1 apa jam 2 gitu baru tertidur. Padahal jam 6 udah mesti bangun lagi buat siapkan makanan, jam 8 mulai kerja lagi. Aku baru balik normal siklus tidurnya pas udah mulai masuk kantor lagi pas pertengahan puasa deh kalau ngga salah (3 hari WFH 3 hari WFO). Pulang kerja itu rasanya badan capek banget, jadi begitu sampai rumah, mandi, makan, langsung tidur deh. Besok paginya lebih semangat karena tidurnya udah cukup.

Abis itu, saat semua udah mulai stabil, aku udah ngga overthinking, kerjaan di kantor udah mendingan (nggak google meet lagi all the time), anak-anak udah pada santai, aku jadi bisa meluangkan waktu untuk dengar-dengarin podcast lagi, nontonin IG story orang, baca-baca buku, dan yang paling ambisius adalah daftar free online course, 3 courses berbeda sekaligus di edx!!!!! Wkwkwkw. Macam betul ajalah ya kan. Awalnya aku happy tuh, dapat banyak pengetahuan secara mendalam. Tiap hari aku meluangkan waktu 2-3 jam untuk belajar di malam hari setelah anak-anak tidur. Setiap hari aku belajar satu course. jadi dalam seminggu, aku belajar satu course itu 2x. Oh ya, dua dari tiga courses yang aku ambil itu adalah “The Health Effects of Climate Change” dan “The Ethics of Eating”. Ini bagus banget pelajarannya, tapi me just being me kan, eh malah aku kepikiraaan jadinya. Kok gini sih, kok gitu, terus aku bisa berbuat apa biar kondisinya membaik. Lama-lama, eh kok aku jadi sedih, jadi pola tidurku rusak lagi. Baru bisa tidur jam 2 atau jam 3 subuh. Besokannya karena tidak cukup tidur, aku jadi cranky, mood ngga stabil, dsb lah. Aku pikir, udahlah ya, aku benerin dulu deh pola hidupku, gak mau sampe sakit juga just for the sake feeding my Ego. Jadilah aku mahasiswa DO dari online courses wkwkkwkw

Tapi, dari dua courses itu, aku pelan-pelan baca lagi tuh buku Sapiens yang udah setahun ngga kelar-kelar kubaca, terus lanjut baca buku tentang Minimalism, terus kayak coincidence aja gitu, malah jadi ketemu aja sama sumber-sumber bacaan yang berkaitan sama pola hidup dan pola makan yang bagaimana yang setidaknya tidak terlalu “menyakiti” bumi. Aku jadi mikir, coba deh kalau gitu, aku mau belajar makan plant based. Trus coincidence lagi, ketemu sama IGTV Dian Sastro yang sama Nadya Hutagalung. Di situ Nadya bilang, kalau mau jadi Vegetarian lo ngga bisa ekstrim. Kalau ekstrim, chance untuk berbalik lagi itu tinggi. Mending pelan-pelan aja, cari tau rasa-rasa makanan plant based sampe ketemu yang enak dan kamu suka. Gitu deh salah satu omongan dia yang aku tangkap. Ya udah, gitu deh, mulai pertengahan Juni aku jadi mulai belajar makan plant based. Enak juga dan ngga susah juga sih buat aku, karena pada dasarnya aku emang doyan sayur. Eh terus aku masih konsumsi telur dan susu kok. Apakah ada bolongnya, ya tentu ada, tapi nggak banyak. Kapan itu pas temen main ke rumah terus BBQ-an, aku makan juga hihihihi, sama pas di kantor temenku mentraktir makan siang, menunya ikan dan sayurnya dikit banget sama kuah gulai doang. Makin ke sini, ya udah makin biasa aja sih. Tiap ke kantor paling aman ya bawa bekal aja, kalaupun ada traktiran, aku makan-makan aja kok kecuali daging/ayam/ikan/seafoodnya. Kalau mesti beli karena ngga bawa bekal, aku pesannya nasi plus beberapa macam ayur aja, plus tempe/tahu/terong atau telur. Kadang kalau teman-teman di kantor pesan martabak telur yang ada daging sapi cincangnya, aku kadang masih makan juga sepotong karena susah misahinnya. Tapi kalau martabak manis sih ya langsung hajar aja wkwkwkwk.

Di rumah sih ngga terlalu banyak perubahan ya, orang rumah kecuali aku masih aku masakin menu seperti biasa, paling buatku aku tambah jenis sayuran, biji-bijian, dan kacang-kacangan aja. Masaknya ya ditumis aja udah enak. Kadang disop sayur aja. Kalau lagi rajin, kapan hari aku bikin rendang nangka muda, enak banget hahahahha. Udah dua bulan tapi masih belum bosan sih, masih semangat mau lanjut makan plant based.

Oh ya selain itu, aku juga mulai mengusahakan banyak bergerak terutama kalau lagi WFH ya. Kebayang ngga sih, kalau WFH itu kadang ngga sadar dari jam 8 sampai jam 5 (bahkan lebih) ya di depan komputer aja. Paling geser dikit ke meja makan tau ke toilet, yang mana di situ-situ juga karena rumah hamba kan segitu-gitu aja. Agak ngeri ya nggak gerak gitu. Kalau di kantor kan, masih adalah bergeraknya, naik turun tangga, jalan ke toilet, ke ruangan bos, wkwkwkw. Jadi aku usahakan jalan kaki muter komplek kalau ngga pagi ya sore abis kerja, tetap pakai masker, jaga jarak sama orang. Kalau WFO gimana, kalau WFO justru langkahnya lebih banyak, sebab itu tadi, di kantor aja udah muter-muter kan, ditambah perjalanan yang harus kutempuh dari halte pas turun bus sampai ke rumah. Iya jalan kaki, awalnya karena di Tangsel kan sampe akhir juli masih PSBB ya, jadi mau naik gojek ke rumah ya memang tidak ada kakak. Naik taksi ya ada, tapi kemahalan wkwkwkwkwkw. Mau tidak mau saya harus jalan kaki sampai ke rumah. Akhirnya malah keterusan, sekarang walau udah ada Gojek, aku tetap jalan kaki sih hahahhaha.

Gak disangka ya, pandemi ini justru menghasilkan better version of me, ceileeeee gaya bener hahahahhaa. Ya udah deh, segitu dulu ceritanya yaaaa. Selamat menyambut hari Kemerdekaan semuanyaaaa..

Shien

Pengalaman memindahkan dana dari RDN ke rekening biasa

Well, jadi sebagai lulusan sekolah investasi 4 tahun lalu, tentulah aku mencoba mengamalkan ilmu yang dimiliki dengan cara berinvestasi di saham dan reksadana walaupun jumlahnya gak seberapa. Namanya juga investasi ya bok, dikit demi sedikit aja dikumpulinnya, lama-lama bisa jadi bukit hahahhaa. Yang penting setelah kehidupan sehari-hari terpenuhi, ga ada utang kartu kredit, dana darurat pelan-pelan dicicil (beneran pelan-pelan banget macam siput hahahaa) barulah kita boleh mulai punya investasi. Itu menurutku loh ya, silahkan aja teman-teman maunya gimana sesuai kenyamanan. Cicilan KPR sih masih ada dan masih panjang huhuhu *jadi curhat*.

Untuk berinvestasi saham, aku mendaftarkan diri di 2 sekuritas, Mandiri Sekuritas (MOST) dan Indo Premier (IPOT). Aku daftar di MOST itu udah sejak 2017, sedangkan di IPOT sekitar 2019 awal kali ya. Tujuannya juga beda-beda sih, portofolioku di MOST itu khusus saham emiten-emiten yang masuk dalam Index LQ-45. Sementara di Ipot, aku emang khususkan untuk saham emiten-emiten yang tergolong “second layer”. Tujuan awalnya, yang di MOST itu buat jangka panjang, yang di IPOT buat jangka pendek. Gitu-gitu deh, hahahhaa. Jumlahnya otomatis juga beda, yang di MOST sedikit lebih banyak dibandingkan dengan yang di IPOT.

Ternyata, kadang kenyataan tak seindah angan-angan yang dirancang. Jadi walaupun tujuannya untuk jangka panjang, ya ada masanya juga aku terpaksa menjual saham di MOST dan di IPOT simply karena aku merasa ini sahamnya kok terlalu fragile gitu deh, suka bikin jantungan hahahaha. Ya gitu, biar tujuan tercapai kan harus rajin-rajin evaluasi ya kaaan. Nah hasil penjualan saham kan biasanya masuk ke RDN (Rekening Dana Nasabah) kita, biasanya aku diamkan aja di situ sampai aku menemukan saham lain yang menurutku mempunyai kinerja yang lebih OK.

Namun, ada kalanya pula, duitnya emang aku perlukan buat kebutuhan tertentu sehingga mau ngga mau aku harus tarik kan ya.. Nah, awalnya aku bingung tuh, gimana caranya memindahkannya ya? Akhirnya aku coba-coba aja sendiri, nah tapi siapa tau berguna buat newbie, ini aku tulisin di sini deh. Oh ya, tapi aku mau bilang dulu nih, kalau aku ngga pakai aplikasinya di handphone ya. Untuk bertransaksi, aku lebih nyaman menggunakan website saja di komputerku sehingga semua angka-angka terpampang nyata.

Mandiri Sekuritas

  1. Login ke https://www.most.co.id/
  2. Setelah masuk ke halaman, klik bagian “account” terus pilih “penarikan dana”
  3. Masukkan PIN transaksi
  4. Akan muncul tabel di bagian kiri atas yang judulnya “Available Cash”, nah nanti akan terpampang nyata jumlah uang tunai yang kita miliki pada hari tersebut di MOST guys. Contohnya Rp 1.000.000 Nah di tabel bawahnya ada informasi Bank penerima, nomor rekening, dan nama penerima. Lalu di sebelah kanan ada tulisan “Amount (Not Including Fee*)” dan tempat kita menuliskan berapa yang mau kita transfer. Let’s say mau ambil Rp 950.000 yaaa. Baru klik SUBMIT deh.
  5. Kalau kita submit penarikan dana sebelum jam 11.30 WIB, tar uangnya akan masuk ke rekening penerima dalam beberapa jam.
  6. Selamat menikmati duitnyaaa, hehehehe.

Indo Premiere

Nah kalau yang di Indo Premiere agak unik nih. Kalau transaksi beli jual saham aku biasa pakai ipot ultima https://app35.ipotindonesia.com/ipot/tablet/ulogin.jsp tapi kalau menarik dana, kita harus:

  1. Login ke website https://www.indopremier.com/ menggunakan username dan password.
  2. Setelah itu Login PIN, PINnya sama aja dengan PIN yang biasa dipakai transaksi di ipot ultima.
  3. Lalu akan muncul akun kita ditandai dengan nama lengkap kita, klik aja terus pilih “Pengaturan Dana” lalu klik aja bagian “Penarikan Dana”.
  4. Setelah itu kita akan tiba pada laman yang bentuknya seperti surat instruksi penarikan dana yang ditujukan kepada IPOT. Kita akan melihat bank penerima dana (which is rekening kita sendiri) dan isikan aja jumlah yang mau ditarik berapa. Jumlah dana yang ditarik haruslah lebih kecil atau sama dengan dana yang aktif di RDN kita. Jumlah dana aktif yang ada di RDN juga akan terpampang nyata kok, tenang aja.
  5. Setelah isi, KLIK SUBMIT deh, tar uangnya akan masuk ke rekening penerima (which is diri sendiri) dalam beberapa jam.
  6. Selamat menikmati duitnyaaa, hehehehe.

Mudah bukan teman-teman mencairkan duitnya? Tapi ya jangan sering-sering yaaa. Namanya juga dana investasi kan, kalau sekedar buat beli bakso ya ngga perlu cairin dana di RDN hahahha.

Sekian dulu yaaa,

Shien

Coming late to the party…

Kata orang, jangan membenci sampai sebenci-bencinya, karena bisa aja perasaan benci itu berbalik menjadi cinta. Iya, udah tau sih, tapi itu masih sebatas “kata orang” sampai aku sendiri benar-benar mengalaminya.

Iya, ini antara aku dan KDrama, gonna be a long post, please bear with me 😀

Jadi, dari jaman kapan Kdrama ngehits, aku ya kok ya nggak pernah sedikitpun tertarik buat nonton. Ya pernah sih, dulu banget pas musim-musim Full House pas jaman kuliah, yang mana itu adalah 16 tahun yang lalu bhahahaha. Dulu sih gemes-gemes kesel yaa pas ngeliat aktingnya si Rain sama si Song Hye-Kyo, soundtrack dramanya “I Think I Love You” yang dinyanyikan oleh Byul sampai sekarangpun masih jadi favoritku. Tapi ya udah, segitu aja. Dramanya tamat, akunya udah nggak move on ke KDrama manapun. Oh ya, dulu seingat aku Winter Sonata juga lagi booming ya, temen-temenku, mamiku sama tanteku demen tuh dulu tapi aku ngga nonton. Jadi pengetahuanku ya cuma sampai di situ.

Pas udah kerja, penggemar KDrama mulai banyak kan. Tapi aku masih bergeming, gak pengen sama sekali nonton deh pokoknya. Apalagi makin ke sini, eh ya ampun, hampir semua temen-temen, saudara, adek kandung, mbak di rumah, bahkan suamiku sendiri doyan KDrama.  Ke mana-mana aku dengernya DOTS lah, apalah apalah hahahaha. Aku loh sampai mempertanyakan diri “Am I the only one on earth who doesnt watch KDrama?” Etapi suamiku bukan ke KDrama sih, lebih ke KFilm. Film ya, bukan serial drama. Penting ini dinyatakan di awal, bisa kena omel aku ntar kalo nggak hahahaha.

Sebenarnya seberapa benci sih sama drakor? Well, gimana bilangnya ya. Sebetulnya bukan ke drakornya sih, tapi kalau dengar cerita temen-temen tu bahwa mereka sampai baper sampai susah move on gara-gara nonton cinta-cintaan di satu judul serial, atau sampai ngga tidur gara-gara marathon nonton, atau di timeline sosmed bahasnya itu-itu melulu, atau bahkan sampai heboh banget fans meeting gitu, eh sampe aku beneran tau loh beberapa orang di sekitarku yang les bahasa Korea agar lebih menjiwai saat nonton, terus I was like “why you all let drakor control your life?” Asli seheran itu loh aku. Apa susahnya sih move on dari satu tokoh? Ha? Ha? Apa susahnya?

Tapi, being a member of social community, aku akhirnya ya ngga bisa lepas-lepas amat dari KWorld ya kaan.  Istilahnya, aku ngga nonton dramanya, tapi anakku kok ya mendadak suka dengerin BlackPink, atau Exo bahkan sampai hapal loh lirik lagunya. Mulai suka minta browsing-browsing di handphone aku, ya lama-lama aku jadi lebih toleran lah ya sama lagu-lagunya. Terus, temen abis dinas dari Korsel bawain oleh-oleh, ya tetep oleh-olehnya aku simpan, mayan bok hahahaha. Adekku suka jastip sheet mask dari Korea sampe kulkas penuh, ya mumpung ada dan gratis aku pakai juga tuh masker-maskernya, biar kinclong ya kan. Ada perayaan ulang tahun, makannya Korean BBQ. Weleh. Lama-lama, saat di bioskop ada KFilm yang bagus, suamiku ngajak nonton tuh.

Film pertama yang aku tonton sama suamiku itu Extreme Job di bulan Februari 2019. Itu juga dengan perjanjian, suami harus temenin aku nonton Dilan dulu, baru aku mau temenin dia nonton Extreme Job. Ya emang aku mesti bilang filmnya saat itu menurutku bagus sih. Cuma sepertinya underrated aja, ngga terlalu banyak yang nonton, soalnya di TL dan di lingkar pertemananku ngga ada seorangpun yang bicara soal film ini. Abis nonton, si papa sibuk lah kan memberi pembelaan, “tuh kan ma, kata aku juga apa, bagus-bagus loh film Korea itu”.

Abis itu, film kedua yang aku nonton yaitu Parasit di awal Juli 2019. Kalau film ini, emang aku yang ajakin si papa dan adekku nonton. Adapun yang men drive aku nonton ini adalah seruan beberapa pemerhati film (or influencer or whatsoeverlah) yang aku percaya banget sama seleranya di Twitter untuk rame-rame nonton film ini karena khawatir layarnya akan segera habis (sepi peminat) padahal ceritanya sendiri BAGUS BANGET! Itu asli lumayan ribet juga tuh nyari nonton di mana, karena ngga masuk XXI kan. Akhirnya kita nonton di Transmart Bintaro deh saat itu. Gila sih ceritanya, sampai lelah hati aku nontonnya. Nonton tapi sambil tutup mata hahahaha. Ga heran ya kalau akhirnya dinominasikan dan bahkan bisa menang Oscars.

Habis itu, aku berpikir, oke, industri film Korea emang bagus ya. Mau deh aku nonton filmnya lagi. Nonton film aja tapi, so I can control myself in terms of time, emotions, dll. Kan mikirnya abis pulang dari bioskop, yaudah kelar kan.

Tapi belum ada film baru lagi, eh Covid-19 udah mewabah. Sejak awal Februari 2020, kita memutuskan untuk nggak ke mall lagi. Kalau perlu-perlu banget ya ke plaza kecil dekat rumah aja. Jadi deh tuh Sabtu sore abis anak-anak les jadi terasa kosong banget akibat di rumah doang. Minggu juga abis ibadah ya di rumah aja. Aku nonton TV males. Si papa dan anak-anak paling nonton koleksi film-film lama. Yaudah paling hari Minggu ngeliatin IG aja. Tapi aku mencatat nih, ada satu drama yang sering disebut-sebut dan direkomendasikan oleh kak Sondang untuk orang yang pertama kali ingin memulai nonton KDrama. Menurut ybs, drama tersebut juga dulunya direkomendasikan oleh Kak Joeyz. Jadilah aku baca balik tuh blognya kak Joeyz, yang oleh WordPress terus diarahkan sampai ke blognya thefangirlverdict. Entah ya, namanya semesta mendukung, kok ya pas aku ngeliatin feednya Arief Muhammad, ada satu komennya Disas (kalau kenal aku udah lama, taulah ya she is someone I always look up to) yang nyebut judul yang sama. Yes. Udah mantaplah ya, udah ancang-ancang nih, tar di kantor aku mesti minta link buat streaming atau downloaded file atau apalah itu ke anak kantor biar minggu depan aku bisa nonton. Abisnya minta ke adekku bilangnya malah gini ” Hah? Baru mau nonton itu di 2020? Ih udah lama banget tu, nggak ah, aku udah lupa linknya. Cari aja sendiri di Viu atau di mana ada tu pasti”. Nyebelin kan, orang bingung bukannya dibimbing, halaah dasar anak jaman sekarang.

Eh ternyata, tanggal 7 Maret 2020 si papa tumben-tumben buka-buka file di harddisk aku terus play a video. Pas aku lihat, eh ya ampun kok ya Reply 1988??? Ternyata aku dah punya dari dua tahun lalu kayaknya deh, minta sama temen buat stock nonton libur lebaran hahahahhaa.  Jodoh banget ngga sih?

Demikianlah aku mulai mencemplungkan diri menonton KDrama, di tahun 2020. Coming late to the party?

Belum setengah jalan episode 1, aku kayak udah tau aku bakal suka sama serial ini. Dan from the very beginning I know for sure bahwa aku adalah anak gembala #teamJungHwan. Kenapa, ya karena aku suka sama anak pintar juara 1 di kelas, ngga terlalu ganteng, tapi ya ngga usah terlalu ramah juga sama orang hahaha, just like me ya gak sih (emang anda pernah juara1??). Ini kalau dilanjut soal 10 Things I love about Kim Jung Hwan bisa jadi satu post sendiri nih hahahahhaha. To make it short, aku dan suami selesaikan episode ke 20 alias terakhir tanggal 15 Maret 2020 alias tepat seminggu setelah nonton episode 1. Tiap hari begadang karena penasaran terus sama lanjutannya, padahal kita juga baru mulai nonton paling kan setelah anak-anak tidur yak, yah paling mulai setengah 10 malam lah, tiap malam kadang dua kadang tiga episode, hahaha.  Padahal subuh-subuh harus bangun lagi kan buat masak, beresin anak, terus,siap-siap ke kantor. Si papa juga, jadi rajin amat pulang on time dengan motivasi biar cepet sampe di rumah terus nonton. MAMAM DEH TUH SELF CONTROL SELF CONTROL hahahaha.

Ampun ya temen-temen pecinta drakor, aku udah paham sekarang rasanya jadi kalian, ya walopun yang aku alami mungkin belum ada satu permil dibanding kalian yang udah nonton beratus-ratus judul serial.

Ceritanya udah banyak yang review, jadi aku ngga bakalan buat review Reply 1988 lagi, tenang aja. Aku cuma mau bilang ini drama kok ya bagusnya kebangetan, nggak neko-neko, ngga too good to be true juga.  Tipe cerita yang “I can relate” gitu loh. Sedihnya dapat, humornya apalagi, cinta-cintaannya aku sukaaa, kekeluargaan dengan tetangga apa lagi. Keselnya apalagi, sebagai #teamJungHwan, kesel ngga sih liat si Jung Hwan, punya banyak kesempatan buat menunjukkan dan menyatakan cinta tapi dia lebih besar ragu-ragunya. Udah gitu, di Eps 3, pas ada kesempatan sembunyi berdua di antara tembok yang mepet banget, yang cewek udah nyandarin kepala ke dada Jung Hwan, eh kok malah ngana diam aja kaga ngapa-ngapain, aishhh pengen kujitakkan jadinya. *tante-tante emosik*. Lanjut, di sini kita ngga bakalan lihat ada peran yang terlalu jahat tapi juga ngga ada tokoh yang baiknya kayak malaikat. Semua porsinya pas. Semua seolah nyata. Jadi ngga bisa dibilang bahwa ini film cinta-cintaan doang, dibilang film keluarga juga ya nggak 100 persen tepat juga, aku nggak tau deh mau menggolongkannya sebagai film apa. Aku sampai nggak punya perbandingan film/drama lain yang bisa membuat hatiku sehangat ini setelah menontonnya.

Banyaklah pelajaran yang bisa dicatat dari serial ini. Bukan hal-hal baru, tapi justru hal-hal yang kita sering lupa, jadi berasa diingatkan kembali.  Satu yang aku ingat banget itu adalah adegan percakapan Ayah dan Ibu BoRa saat mereka berdebat mengenai Deok Sun, kamera yang hilang, dan nilai-nilai sekolahnya. Nggak persis sama ya, tapi ayah BoRa bilang, Deok Sun begitu karena ibunya tidak membesarkannya dengan benar. Lalu sang istri menjawab, “kau pikir aku akan tega memukulinya kalau gajimu lebih besar? Kalau aku punya uang banyak, tentu aku tidak membesarkannya dengan cara seperti itu, pasti bisa memberi sesuatu yang lebih layak buat anak-anak.” Huhuhu, sedih lo aku pas itu, ikutan nangis. Pelajaran yang lain, ya as simple as yang dilakukan Sun Woo ke Ibunya. Seenggak enak apapun masakan ibunya, dia ga mau ibunya sedih kalau ngga dimakan, jadi ya makan aja dan bilang enak. Ini bener banget loh, sebagai orang yang masak untuk diri sendiri dan keluarga, walau kegiatan masak ini sudah kulakukan bertahun-tahun lamanya, tetap aja aku butuh pengakuan dari suami dan anak-anak. Rasanya bahagia banget kalau dikasih komentar “wah, enak banget masakan mama” padahal aku sendiri ngga makan karena merasa ada yang kurang. Hahahaha. Abis itu pasti langsung jawab suami “udah bisa nih aku buka restoran?” hahahah terus GR akunya kalau dipuji. Gitu gitu deh cuy, ngerti kan maksudku? Satu lagi deh, ini tentu saja dari ucapannya KimJungHwan kesayangan akuuuu (hahaha) soal timing. Dia bilang kadang kita menyalahkan takdir, atau timing, untuk segala sesuatu yang tidak berhasil kita dapatkan.  Padahal sebenarnya bukan karena timing, bukan karena takdir, yang ada juga adalah karena keragu-raguan yang terlalu besar dibandingkan dengan keberanian. Tentu dia tidak bilang begitu ya aslinya, itu aku terjemahkan secara bebas dan sesuka hatiku saja karena kan Kim Jung Hwan ngga bisa bahasa Indonesia wakakakakakak.

Banyak lagi pelajaran lain sebenarnya kalau mau ditelaah satu-satu, tapi kan aku ini menonton drama serialnya kan untuk having fun aja kak, bukan mau bikin essay jadi ya udahlah cukup segitu aja cuplikan pelajarannya yang dimuat di sini.

Eh terus Taek gimana? Masak ga dibahas? Haduuuh gimana ya, gemesin sih dia, manis, kaya raya, dan sopan pula kan. Udah mana dia macam punya label fragile, jadi sense buat melindungi Taek itu macam otomatis muncul ya kaaaan. I like Taek, but as much I like Taek, Kim Jung Hwan already had me at hello. Jadi ya gitu, ngga bisa diganggu gugat yaak masalah ini. Jung Pal adalah koentji. Stress lo yaa Shinta hahahahhaha.

Back to tanggal-tanggalan ya, kan 15 Maret aku selesai nonton episode 20 ya. Abis nonton itu, kok aku merasa macam mengalami lagunya Anang kak. Separuh jiwaku pergi…… Asli adegan-adegannya itu kurasa bagaikan Kipas Angin Cosmos Wadestaaaa, nempel banget di mana-mana, di dinding, di meja, di lantai, bahkan di otak huhuhuhuhu. Udahlah confirmed ini yang namanya susah move on. Setelah menimbang-nimbang, maka aku putuskan, daripada susah move on, YA MENDING TONTON AJA SEKALI LAGI SERIALNYA. Hahahahaha. That said, maka 17 Maret aku ulang lagi tuh nonton dari episode 1. Gilaaak gilaaak gilaaaak. Makin diulang nonton ternyata makin ngga bisa move on nih aku. Akhirnya, daripada gila sendiri, terpaksa yaa aku berkonsultasi via DM IG dengan si root cause yaitu kak Joeyz (hahaha, maaf kak Jo!). Oleh kak Jo, aku dikasih beberapa judul serial yang menurutnya setipe dan berdampak sehangat Reply 1988 sehingga bisa membantu kelancaran proses move on. Hasil dari kak Jo aku konfirmasi ke reviewnya si thefangirlverdict. Cucok sih, hasilnya positif semua, bahkan dikasih nilai A- sama si thefangirlverdict. Jadi kayaknya, ntar deh, kapan udah siap aku mau nonton Prison Playbook.

Sementara itu, aku masih muter-muterin soundtracknya Reply 1988 yang Dont Worry, setiap hari, sepanjang hari sampai anak-anak sama suami hapaaal hahahhahahaha…

Jadi gitu yaa adek-adek, sebagai mana postingan yang baik kan mesti ada pesan moralnya ya. Nah, diinget-inget tuh, kalau suka ya sewajarnya, kalau benci ya sewajarnya juga, ngga usah ngata-ngatain orang, Sebab, bisa aja bencinya berbalik jadi sukaaa. KAYAK AKOHH.

Until then,

Bye…

 

Beautiful February

Hola,

Aku lagi tungguin anak les, lumayan ada sejam nih, pas pula lupa bawa buku Sapiens yang ngga kelar-kelar dibaca dari tahun lalu, yauda mending nulis-nulis di sini aja, bukan begitu?

Bukaaaan… Hahahaha

Februari 2020 sejauh ini gimana ya, kalau di aku sih ada suka ada duka lah. Apakah itu? Berikut ceritanya.

1. Ulang tahunku

Genap 35 tahun usiaku tahun ini dan aku kayak “hah, 35?” Berasa suddenly 35 gitu loh, padahal ya perasaan gini-gini aja akunya. Niat banyak, mau belajar lagi lah,  mau ambil sertifikasilah, mau coba hal-hal baru lah, mau rutin meditasi, mau hidup sehat, mau cari penghasilan sampinganlah. Tapi semuanya tentu saja hanya sebatas wacana dan batal dilakukan karena aku terperosok dalam lembah kemalasan, hahahaha.

Pas hari ulang tahun, biasa aja, bangun tidur terus dapat ucapan selamat dari suami dan anak-anak. Lalu buka Whatsapp dapat ucapan juga dari keluarga dekat dan teman-teman. Sibuk deh bales-balesin WA.
Terus aku emang dari jauh-jauh hari niat ambil cuti pada hari H simply karena pengen di rumah aja me time. Pengen kayak ultahku tahun lalu itu loh, pada ingat ngga? Apakah me timenya terwujud? Ternyata nggak terwujud, karena beberapa hari sebelumnya anak-anak pada demam, batuk, pilek. Terus mengingat aku cuti, ya udah pada hari itu anak-anak ijin ga masuk sekolah buat berobat ke Rumah Sakit. Si papa juga karena aku cuti dan berencana bawa anak-anak berobat, malah memutuskan untuk remote work aja.
Jadi begitulah, habis aja deh tuh setengah hari lebih di RS. Balik ke rumah, makan terus tidur sore hahahaha. Ga ada acara tiup lilin karena aku memang ngga beli kue ultah, anak-anak batuk gitu kan masa makan cake cokelat.

Dua hari kemudian, sore-sore pas lagi asik-asik kerja, tiba-tiba anak kantor nyanyi-nyanyi sambil bawa pizza besar dengan lilin di atasnya dan tentu saja lengkap dengan fotoku dan mbak A. Iya, kita ultahnya selisih sehari doang, jadi dibarengin perayaannya. Halah, ni anak-anak udah dibilangin padahal aku ngga usah dinyanyi-nyanyiin gitu lah, udah tua ini hahahaha. Lagian aku kan bingung ya,  pas mereka nyanyi-nyanyi sebelum tiup lilin aku harus bersikap macam apa? Senyum? Ikut nyanyi? Tutup mata? Atau gimana? Akward banget ngga sih? Pas tiup lilin juga gimana ya, aku takut ga steril aja nanti itu pizzanya yang segede apaan, secara aku juga masih batuk saat itu kan, jadi aku tepok aja deh tuh lilinnya hahahahaha.

Udah umur segini, puji Tuhan punya penghasilan yang cukup buat beli-beli yang dimau, pas ditanya mau kado apa sama suami dan adek-adekku malah bingung mau minta apa. Aku minta dibeliin bra Uniqlo sama suamiku sebagai kado, terus kata dia “yaelah masa kado ultah itu?” Lalu ganti haluan, aku minta tas, kata dia “bukannya tas mu udah banyak?”. Ya emang sih udah banyak dan yang dipake juga itu-itu aja hahahahaha. Lalu coba lagi nih, minta beliin cincin eh kata dia, “ itu cincin terbuat dari apa? Bukan emas kan? Mahal lagi. Nggak ah, aku ngga ada duit!”.  Ini laki gue emang kadang nyebelin, kalau gitu ngapain nanya mau kado apa coba, yang ada malah bikin aku emosi kan hahahaha.

Terus adek-adekku juga nanyain mau kado apa? Saking ngga punya ide mau apa, aku bilang udah deh aku minta beliin shampo dan facewash aku aja, udah mau abis soalnya. Adek-adekku yang “hah serius nih?”,  ya iya dong serius. Terus karena aku takut shampo dan sabun cuci muka keburu abis sebelum kadonya sampai, aku bilang ke mereka udah deh aku beli aja sendiri ntar di reimburse aja ya. Terus struk belanjaan aku kirim dan duitnya ditransfer deh. KACAU BANGET hahahahaha.

Makin ke sini emang aku lebih pengen minimalis aja lah untuk urusan barang-barang, secukupnya aja. Pakaian secukupnya aja, dan ngga usah beli kalau bukan karena rusak. Tas dompet aku memang punya beberapa tapi yang dipakai itu-itu aja. Punya jam tangan satu, punya sandal satu, sepatu kerja dan sepatu jalan secukupnya aja. Handphone masih bagus walau udah dipakai empat tahun. Punya rumah walau masih KPR, punya mobil. Sesekali masih bisa makan di luar, jadi perlu apalagi sih? Udah cukup puas sih aku dengan apa yang aku miliki sekarang.

Aku lebih ingin upgrade kemampuan otak dan skill aja paling. Terus lebih ingin menjaga kesehatan diri sendiri dan keluarga aja, membuat hidup ini lebih berguna bagi orang lain. Oh ya, udah beberapa waktu juga aku berusaha nahan mulut untuk nggak kepo sama orang, ngga nanya hal-hal yang kurang perlu, gak follow akun gosip, dan mengurangi basa basilah. Kalau aku senang dengan postingan seseorang, aku bakal kasih tau bahwa aku suka melihatnya, aku like postingannya. Tapi kalau nggak, ya udah cukup dilihat aja dan menahan diri untuk tidak nyinyir. Receh-receh di twitter masih lah, masih bisa banget bikin ketawa-ketawa di jalan pas macet.

Mobil baru ngga pengen apa? Ya pengenlah hahahahhaa. Secara spesifik aku bisa jelaskan mobil apa yang aku pengen lengkap dengan alasannya. Sampe berdebat panjang malah sama suami soal pilihan mobil. Tapi bukan untuk sekarang dong, untuk masa yang akan datang. Mobil yang ini masih tangguh dan bandel mesinnya, buat apa ganti ya kan.

Gimana gimana, udah lebih wise belom aku? Terasa perubahannya nggak? Hahahahaha.

2. Ponakan lahir

Jadi aku dan adekku yang persis di bawah aku hari lahirnya sama-sama di bulan February. Dia baru saja melahirkan seorang babyboy sehari tepat sebelum ulang tahunnya. Lalu, aku punya adik lagi, yang urutan lahirnya nomer 4 di keluarga aku. Dia juga baru melahirkan babyboy sehari tepat sebelum hari lahirku. Jadi, tahun depan, akan ada 4 orang yang akan berulang tahun dalam keluarga besar kami, hehehehe.

3. Bebas KPR #1

Ini merupakan salah satu titik terbahagia dalam hidup rumah tangga kami deh kayaknya, KPR lunas hahahahha. Jadi kan selama ini kita nyicil dua KPR ya, satu di Batam dan satu di TangSel sini kan. Duh, I can tell you, berat banget sis, mau nangis kadang hahahahaha. Makanya ini dari tahun lalu udah ga sabar banget nih, tiap bulan nanya sama si papa, “pa kapan sih lunasnya, lama amat”. Dengan lunasnya KPR #1 mudah-mudahan bisa napas lebih lega dan bisa nambah investasi dikit-dikit.

4. Hasil Lomba

Jadi kalau ada yang follow IG dan Facebook aku, pasti tau kalau Januari lalu aku ada ikut kompetisi, dan hasil kompetisinya sudah diumumkan. Ada beberapa kejanggalan yang aku temukan dalam proses kompetisi tersebut. Mungkin kalian akan bilang, ya kalau lo  kalah sih pasti nyari-nyari salahnya panitia lah, coba aja kalau menang. Well, even if I became one of the winners, I still could see kejanggalan. Jadi bukan soal kalah atau menang. Aku sedang menulis surat untuk penyelenggara untuk menyampaikan keberatan-keberatanku, pastinya tidak akan mengubah kondisi yang sudah terjadi tapi mudah-mudahan bisa menjadi masukan buat panitia ke depannya.

Ada beberapa hal lagi yang juga bikin senang di bulan Februari sih, seperti puasa pra paskah yang akan dimulai minggu depan. Puasa apa yaa? Ada deh pokoknya. Yang pasti puasa sosmed sih, biar hati lebih adem dan fokus puasa heheeh. Anak-anak juga pada semangat mau ikutan puasa, mudah-mudahan semangatnya terjaga sampai akhir. Doakan aku supaya kuat puasanya yaaa….

Segitu dulu bincang bincang satu arah kali ini (then why do I call it bincang-bincang?), mungkin akan lebih banyak update di sini karena mulai minggu depan (26 Februari 2020) aku udah mulai puasa sosmed.

Xoxo,

Shien